Misalnya saja, Megawati menyindir para ahli nuklir yang mengatakan Indonesia tetap bisa membangun pembangkit nuklir, meski terkenal rawan gempa.
"Bisakah kita berpikir ala Indonesia, bahwa kita ini negara kepulauan, yang juga masuk ring of fire yang tidak stabil," kata Megawati di hadapan 300-an peserta di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (ahli-red) bilang kuat tidak apa-apa, saya tertawa dalam hati. Kita ini menjadi manusia yang arogan. Itu sudah dibuktikan teknologi kenapa sampai ada kebocoran," terang Megawati.
Dalam kesempatan itu Megawati mendapat jawaban dari Luluk Sumiarso, Dirjen energi baru, Kementrian ESDM, bahwa Indonesia memiliki sekitar 3000 ahli nuklir dengan profesor sebanyak 100 orang. Mendengar hal itu, Megawati mempertanyakan mengapa banyak sekali ahli nuklir sementara untuk pengeboran minyak Indonesia masih banyak mendatangkan ahli dari luar negeri.
"Kalau otak orang Indonesia bisa menjadi ahli nuklir, kenapa nggak bisa kalau ahli yang lain-lainnya. Nuklir itu kan nukleus, urusan-urusan mikrolah yang sampai nggak berasa kalau nembus badan. Itu sudah ilmu paling canggih. Ini ilmu drilling aja nggak ada (ahli)," jelasnya.
Megawati juga mengkritisi anggaran penelitian yang rendah dalam APBN. Menurutnya, nama megah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tidak semegah anggaran yang ngucur ke 'rumah' para peneliti itu.
"Tolong DPR digebrak-gebrak soal dana penelitan ini. Negara menjadi besar menjadi kuat karena bangsanya kuat," tuturnya.
(lrn/gun)











































