"Itu mengirim opini sehingga menimbulkan kebencian. Saat ini perang asimetris, kita tidak tahu yang serang dari luar, dalam, dan juga abstrak," ujar Hendropriyono.
Hal itu dikatakannya usai berbicara di seminar "Ancamanan Keamanan Negara" di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Selasa (31/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi yang benar jangan langsung dibantah. Dibenarkan tapi belok," kata Hendropriyono.
Dalam ketegorisasi intelijen, pengirim SMS fitnah termasuk dalam strategi Perang Urat Syaraf (PUS) atau Psychological Warfare (Psywar) yang jawabannya bukan dengan pengerahan polisi dan tentara secara besar-besaran.
Saat ditanyakan tentang siapa kira-kira pengirim pesan singkat yang mengatasnamakan Nazaruddin, Hendropriyono mengatakan tidak mengetahui siapa pengirim pesan itu.
"Saya tidak tahu. Masa intelejen sok tahu," ucapnya.
(fiq/gun)










































