"Kenapa sesuatu yang disadari remeh temeh tapi dikomentari secara sungguh-sungguh? Semakin dikomentari justru publik akan semakin menimbulkan tanda tanya besar," jelas pengamat politik Yudi Latif.
Hal itu disampaikan Yudi Latif di sela-sela acara diskusi panel di Lemhannas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (31/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau Presiden atau pemerintah ingin menanggapi SMS fitnah tersebut, cukup dikatakan jubir Kepresidenan. Yudi menilai, ada kesalahan dari staf di sekeliling Presiden.
"Kenapa dibiarkan Presiden mengomentari isu-isu yang remeh dan menjatuhkan wibawanya? Paling tidak ini kan bisa di-handle oleh juru bicaranya kalau memang itu perlu ditanggapi. Tapi kalau ditanggapi seperti itu kan, menunjukkan di mana mentalitas seorang presiden," cetus Direktur Eksekutif Reform Institute ini.
Sebaliknya, kalau SMS tersebut diremehkan, maka masyarakat juga tak peduli terhadap SMS itu. Karena banyak sekali SMS hoax atau bohong berseliweran sehari-hari.
"Banyakan itu SMS cuma hoax biasa saja. Tapi karena ini ditanggapi secara serius maka orang justru mulai berpikir macam-macam," tandas Yudi.
(nwk/nrl)










































