MA-60 Dibuat untuk Berbagai Cuaca dan Geografis yang Buruk

Laporan dari China

MA-60 Dibuat untuk Berbagai Cuaca dan Geografis yang Buruk

- detikNews
Selasa, 31 Mei 2011 00:12 WIB
Xianyang - Baling-baling baja hitam di dua sayap perlahan berputar. Tak berapa lama, pesawat MA-60 meninggalkan Bandar Udara Internasional Xianyang, Xian, Provinsi Shaanxi, China. Usai badan pesawat terangkat, 3 buah roda langsung masuk ke badan pesawat dan MA-60 pun segera meninggalkan kota di tengah daratan China tersebut.

"Pesawat ini dibuat sepabrik dengan Boeing seri 737 dan 787," kata Dirut Merpati, Jhonny Tjitrokusumo di sela-sela penerbangan reguler Xian- Yanan, Senin, (30/05/2011).

Baru beberapa saat mengudara, pesawat yang menggunakan mesin PW-127J buatan Pratt&Whitney Canada dan 247F-3 buatan Hamilton Sundstrand Amerika Serikat diterpa kabut sehingga jarak pandang pun terhalang. Namun, deru mesin terus menerbangkan pesawat menembus dataran tinggi China bertipikal bukit ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pabrik MA-60, Xi'an Aircraft International Coorporation (XIAC), juga dibikin rudal yang bisa ditembakkan ke New York dari China," ungkap Jhonny.

Adapun MA-60, adalah kapal terbang komersil kebanggan China yang dikhususkan untuk daerah bermedan sulit. Dibuat di sebuah desa kecil di Xian, 1 jam menggunakan kendaraan darat dari pusat kota, MA-60 telah digunakan di 13 negara.

"Harus diakui, kecelakaan beberapa waktu lalu membuat pendapatan Merpati berkurang hingga 40 persen," terang mantan pilot Merpati ini.

Usai 1 jam terbang, detikcom bersama 16 wartawan lainnya pun mendarat di Yan'an Airport. Bandara kecil ini dikelilingi bukit terjal. Puluhan alat berat dikerahkan untuk meratakan perbukitan menjadi tanah datar seluas Kemayoran. Dari udara pun nampak pemukiman-pemukiman di bukit yang tertata rapi.

Yan'an merupakan daerah perbukitan yang mengalami 4 musim. Pada musim dingin mencapai −5.5 °C pada Januari, sedangkan musim panas mencapai 23.1 °C pada bulan Juli. Untuk menuju daerah terpencil ini, 2 buah maskapai melayani masyarakat darian Xian dan Beijing yaitu Joy Air dan Tianjin Airlines.

"Kondisi geografi Yan'an lebih berbahaya dari Ende, Papua," terang Jhonny.

Usai mendarat, kami hanya bisa menghirup udara sejuknya Yan'an kurang lebih 30 menit. Sebab, setelah itu MA-60 membawa kembali ke Xian dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan udara. Dengan tempat duduk 52 seat, penumpang pun merasa nyaman dengan jarak antar tempat duduk yang cukup longgar.

Tidak berapa lama mengudara, seorang pramugari memberikan satu botol air mineral dan roti. "Yang menjadi masalah, mengapa proses pembelian pesawat ini memakan waktu yang cukup lama, 5 tahun? Yaitu dari 2005 sampai 2010. Mengapa?," ungkap Jhonny dengan kesal.

(asp/mok)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini