PKS Nilai SBY Terlalu Reaktif Tanggapi SMS Fitnah

PKS Nilai SBY Terlalu Reaktif Tanggapi SMS Fitnah

- detikNews
Senin, 30 Mei 2011 18:08 WIB
PKS Nilai SBY Terlalu Reaktif Tanggapi SMS Fitnah
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai over reaktif menanggapi isu SMS fitnah dari pengirim yang mengaku M Nazaruddin. Seharusnya isu tersebut cukup ditanggapi oleh juru bicara Partai Demokrat saja.

"Pak SBY terlalu over reaktif," ujar Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfudz Siddiq kepada wartawan di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2011).

Mahfudz melihat isu-isu fitnah seperti ini banyak juga menimpa partai politik yang lain, seperti Partai Golkar dan PKS sendiri. Dan pada praktiknya, partai-partai tersebut bisa mengatasi tanpa menimbulkan polemik berkepanjangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena sebenarnya banyak partai yang juga pernah terkena masalah seperti itu, dihajar oleh media dan dipojokkan. Namun bisa juga menyelesaikannnya tanpa harus banyak orang yang ikut memberikan statemen dan berpolemik sendiri," ucapnya.

Menurut Mahfudz, cara mengatasi permasalahan seperti ini tergantung pada manajemen konflik masing-masing partai. "Jadi ini sebenarnya bagaimana caranya Partai Demokrat untuk menyelesaikan konflik yang ada," tutur Mahfudz.

Jadi maksudnya dalam hal ini manajemen konflik Partai Demokrat bisa dibilang gagal?

"Saya tidak bilang begitu. Cuman tidak perlulah semua orang berbicara, apalagi sampai Pak SBY ngomong ke media," jawabnya.

"Meskipun itu dalam kapasitas Dewan Pembina Partai Demokrat, cukup beberapa orang atau juru bicara partai saja harusnya (yang menanggapi isu tersebut)," tandas Mahfudz.

Sebelumnya SBY menggelar jumpa pers mengenai SMS fitnah yang beredar di BBM dan social media. SBY menantang yang membuat SMS tersebut untuk menampakkan diri.

"Muncullah secara ksatria! Mari kita berhadapan!" tantang SBY dalam keterangan pers di Base Ops Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (30/5/2011).

"Fitnah yang dilemparkan seseorang dari hati yang gelap, itu sungguh keterlaluan," ujar SBY yang berusaha tetap tenang.

"Bukannya teknologi informasi, media online dipakai untuk menyebarkan fitnah, pembunuhan karakter, caci maki, bukan cuma saya tapi siapa pun yang menjadi korban teknologi informasi dewasa ini," ujarnya.

(nvc/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads