Jimly: Pejabat & Politisi Harus Sedia Dikecam & Dibenci, Itu Risiko

SMS Fitnah

Jimly: Pejabat & Politisi Harus Sedia Dikecam & Dibenci, Itu Risiko

- detikNews
Senin, 30 Mei 2011 16:47 WIB
Jimly: Pejabat & Politisi Harus Sedia Dikecam & Dibenci, Itu Risiko
Jakarta - Pejabat atau politisi seharusnya tidak perlu risau atas fitnah-fitnah yang bertebaran di media sosial yang difasilitasi teknologi informasi. Sudah menjadi risiko bagi pejabat dan politisi untuk dikecam dan dibenci, dan mereka harus siap dengan hal itu.

"Nggak usah dianggap fitnah di twitter itu. Jadi saran saya, intinya semua pejabat dan politisi harus bersedia untuk dikritik, dikecam dan dibenci sekali pun. Itu kan risiko," ujar mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang hukum Jimly Asshiddiqie saat ditanya perlu tidaknya SBY membentuk Satgas atau Staf Khusus yang bertugas menangkal fitnah.

Hal itu disampaikan Jimly usai diskusi publik tentang 'Partai Politik Menggerogoti Anggaran Negara' di Rumah Perubahan, Kompleks Pertokoan Duta Merlin Blok C 17, Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang penting kita berbuat baik saja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita dan kalau pun kita klarifikasi itu tidak akan meyakinkan musuh kita," imbau Jimly.

Mengenai social media, Jimly yang memiliki dua akun Facebook juga pernah merasakan pengalaman tidak enak. Akun FB milik Jimly diretas orang dan dipakai untuk berjualan.

"Saya juga pernah punya akun Facebook dua. Di-hack orang, dipakai untuk jualan laptop atas nama saya. Ya gimana, zamannya kayak gitu, ya sudahlah biarin aja. Tentu kita harus berusaha lapor ke Bareskrim. Saya juga kapok pakai FB," keluh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebelumnya SBY menggelar jumpa pers mengenai SMS fitnah yang beredar di BBM dan social media. SBY menantang yang membuat SMS tersebut untuk menampakkan diri.

"Muncullah secara ksatria! Mari kita berhadapan!" tantang SBY dalam keterangan pers di Base Ops Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (30/5/2011).

"Fitnah yang dilemparkan seseorang dari hati yang gelap, itu sungguh keterlaluan," ujar SBY yang berusaha tetap tenang.

"Bukannya teknologi informasi, media online dipakai untuk menyebarkan fitnah, pembunuhan karakter, caci maki, bukan cuma saya tapi siapa pun yang menjadi korban teknologi informasi dewasa ini," ujarnya.

(nwk/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini