"Nggak usah dianggap fitnah di twitter itu. Jadi saran saya, intinya semua pejabat dan politisi harus bersedia untuk dikritik, dikecam dan dibenci sekali pun. Itu kan risiko," ujar mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang hukum Jimly Asshiddiqie saat ditanya perlu tidaknya SBY membentuk Satgas atau Staf Khusus yang bertugas menangkal fitnah.
Hal itu disampaikan Jimly usai diskusi publik tentang 'Partai Politik Menggerogoti Anggaran Negara' di Rumah Perubahan, Kompleks Pertokoan Duta Merlin Blok C 17, Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Senin (30/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai social media, Jimly yang memiliki dua akun Facebook juga pernah merasakan pengalaman tidak enak. Akun FB milik Jimly diretas orang dan dipakai untuk berjualan.
"Saya juga pernah punya akun Facebook dua. Di-hack orang, dipakai untuk jualan laptop atas nama saya. Ya gimana, zamannya kayak gitu, ya sudahlah biarin aja. Tentu kita harus berusaha lapor ke Bareskrim. Saya juga kapok pakai FB," keluh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).
Sebelumnya SBY menggelar jumpa pers mengenai SMS fitnah yang beredar di BBM dan social media. SBY menantang yang membuat SMS tersebut untuk menampakkan diri.
"Muncullah secara ksatria! Mari kita berhadapan!" tantang SBY dalam keterangan pers di Base Ops Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (30/5/2011).
"Fitnah yang dilemparkan seseorang dari hati yang gelap, itu sungguh keterlaluan," ujar SBY yang berusaha tetap tenang.
"Bukannya teknologi informasi, media online dipakai untuk menyebarkan fitnah, pembunuhan karakter, caci maki, bukan cuma saya tapi siapa pun yang menjadi korban teknologi informasi dewasa ini," ujarnya.
(nwk/nrl)










































