Kiai dan Pengurus NU se-Jawa Ngumpul di Salatiga
Minggu, 20 Jun 2004 15:45 WIB
Salatiga - Sekitar 200 orang yang terdiri dari kiai dan pengurus NU hadir di Ponpes Edi Mancoro Gedangan Tuntang Salatiga, Minggu (20/06/2004). Mereka membahas posisi NU dan peran ulama yang dalam momen pilpres kali ini berada dalam posisi terjepit.Mereka datang secara bergelombang sejak pukul 07.00 WIB. Mereka itu aantara lain, Plh Ketua Umum PBNU Masdar Farid Mas'udi, Syuriah PBNU Mustofa Bisri atau Gus Mus, Fawaid As'ad (Situbondo), Dimyati Rois (Kendal), Muhaiminan Gunardo (Parakan Temanggung), Abdurahman Chudori atau Mbah Dur (Magelang), Masruri Mughni (Brebes), MUstofa Agil (Cirebon), dan lain-lain.Sedangkan, Abdullah Faqih (Tuban), Idris Marzuki dan Nurul Huda (Kediri), MUchit Muzadi (Jember), Said Agil Siradj, Manarul Hidayat, dan sejumlah kiai khos lainnya tak tampak sampai acara dimulai.Acara yang disebut sebagai Halaqah Ulama Se-Jawa Jilid I juga dihadiri seluruh pengurus cabang NU Jateng, PWNU Jatim, Jabar, DIY, dan Banten. Dan, tak lupa beberapa pengurus PKB juga hadir. Walsahil, ponpes milik Mahfudz Ridwan itu pun semarak.Acara dibuka oleh Sohibul Bait Machfudz Ridwan sekitar pukul 10.00 WIB. Gus Mus kemudian melanjutkan dengan memberi pengantar singkat. Setelah itu, baru Masdar Farid Mas'udi yang meneruskan dengan acara intinya.Masdar yang juga Direktur P3M Jakarta ini mengungkapkan peta politik pilpres dimana banyak 'orang' NU yang terlibat di dalamnya. Baik sebagai capres - cawapres atau sekadar menjadi tim sukses."Untuk itulah dalam acara ini kita ingin mempertegas sikap kita terhadap khittah 1926 yang telah disepakati di Muktamar Situbondo 1986. Sikap dasar ini harus dipahami bersama agar tidak ada salah tafsir," kata Masdar dihadapan peserta.Dikatakan Masdar, dengan pertemuan ini diharapkan posisi dan gerak gerak kiai yang berperan besar dalam percaturan politik kekuasaan tidak terlalu melampaui tugasnya "di laur negara". Dalam artian, kiai harus tetap berpikir untuk kepentingan umat, bukan kekuasaan."Perbincangan seperti ini akan dilanjutkan pada 30 Juni mendatang di Rembang. Harapannya agar NU bisa mengambil posisi dan peran strategis demi kepentingan bangsa dan umat," papar Masdar. Sesuai jadwal, acara diperkirakan akan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Beberapa kiai dan pengurus NU yang tidak datang akan diundang kembali pada Halaqah JIlid II di Rembang.
(nrl/)











































