"Serangan itu ya menggangu, tapi tidak khawtir, karena mereka melebih-lebihkan. Jadi ketika melebih-lebihkan informasinya tidak laku," terang anggota Dewan Pembina PD Ahmad Mubarok pada detikcom, Senin (30/5/2011).
Mubarok tidak memiliki akun twitter, tapi dia mendapat laporan adanya "gerakan" di media sosial tersebut. Tanpa menyebut akun tertentu dia menyebut upaya pembusukan itu, misalnya soal Presiden SBY dan juga terkait hubungan Ketum PD Anas Urbaningrum dengan Nazaruddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mubarok menegaskan dia tahu akan besarnya potensi twitter, dia juga paham revolusi di Timur Tengah salah satu penggeraknya adalah twitter. Namun PD tetap tidak akan membuat akun-akun tandingan.
"Kita tidak mau melemparkan kecurigaan-kecurigaan, kita tidak merasa heran dalam politik kan memang begitu. Sepanjang tahun akan seperti ini, kita tidak kaget, kita akan buktikan dengan perbuatan," tutur guru besar psikologi ini.
(ndr/nrl)










































