Yang lebih membuat miris, saat pertama masuk rumah sakit, yang ditanyakan bukan kondisi pasien melainkan melainkan apakah korban mempunyai uang untuk membayar biaya berobat.
"Akhirnya kami pindah ke RS Pondok Indah karena di sana (RS Fatmawati) penanganannya lamban dan tidak manusiawi. Tapi ya begitu untuk minta ambulans dan persetujuannya lama banget, harus berkali-kali kami confirm," kata adik korban, Cempaka Pertiwi, ditemui di RS Pondok Indah, Jl Metro Pondok Indah, Jakarta, Minggu (29/5) malam menjelang Senin dinihari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dilarikan ke RS Fatmawati, hal yang ditanyakan pertama kali oleh rumah sakit yakni soal uang terlebih dahulu, apakah mempunyai duit atau tidak untuk berobat.
"Pas saya bawa dia (Bunga) pertama kali ke sana (RS Fatmawati), saya ditanya 'ada uang enggak'. Saya bingung, dan dia dibiarkan berapa jam di teras UGD," ungkap M Fachri, teman korban.
Karena penanganan yang lambat, akhirnya kaki kiri Bunga yang membengkak dipasang papan penyanggah, ruas ke lima jari tangan kanannya terluka, dan keningnya tampak luka memar. Diagnosa lebih lanjut menyebutkan, kaki kirinya didiagnosa mengalami patah tulang dan putusnya pembuluh darah di bagian belakang kaki kiri dan butuh operasi.
"Ini tabrakan beruntun berawal dari mobil Mercy. Menabrak motor Mio, terus mobil colt dan motor Isuzu Panther yang ada di depannya. Pelaku laki-laki diduga usia 17 tahun dan diduga dalam keadaan ngantuk," imbuhnya.
Menanggapi kejadian ini, Kepala Humas RS Fatmawati Atom Kadam, menyatakan ia tidak berwenang menanggapi kondisi itu. Menurutnya, wewenang dilimpahkan ke petugas manajer di akhir pekan.
"Saya tidak berwenang. Tapi saya sudah kontak manager on duty yang berwenang menjawab di luar jam kerja," kata Atom.
(Ari/lrn)











































