Setidaknya fenomena ini terjadi pada Partai Golkar dan PDI Perjuangan sebagaimana temuan hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang Pemilih Mengambang dan Prospek Perubahan Kekuatan Partai Politik.
Hasil survei dipaparkan di Kantor LSI, Jl Terusan Lembang, Menteng, Jakarta, Minggu (29/5/2011).
"Pemilih Golkar paling stabil. Pemilih Demokrat dibanding partai besar seperti PDIP dan Golkar paling tidak stabil. Hal seperti Golkar juga terjadi pada PPP, PKB dan PKS," papar peneliti utama LSI, Saiful Mujani.
Berdasar hasil jajak pendapat yang dilaksanakan di sejumlah propinsi pada 10-25 Mei 2011, Golkar memimpin dengan 77,5 persen pemilih loyal. Posisinya secara berturut-turut diikuti oleh PDIP (75,4 persen), PPP (74,5 persen), PKB (63 persen), PKS (61,4 persen), Demokrat (54,5 persen), PAN (52,8 persen) dan Gerindra (51,3 persen).
Tetapi para loyalis tersebut ternyata tingkat pendidikannya dapat dikatakan rendah, yaitu di bawah SLTA. Sementara calon pemilih yang berpendidikan lebih tinggi, mengaku masih belum menetapkan pilihan alias menunggu hingga tiba waktunya kelak.
"Pemilih Golkar paling stabil, dan pemilih Demokrat dibanding paling tidak stabil. Namun Golkar tidak mampu menarik pemilih baru, malah menurun pada 2014 dibanding 2009. PDIP lebih mampu menjaga pemilih lamanya dan menarik pemilih baru," sambung Saiful.
(lh/lrn)











































