"Memang ada beberapa anggota NII yang setelah kita bina akhirnya digunakan bagi kepentingan intelijen. Kita bukan melakukan pembusukan dari dalam, tapi kita melakukan approach," kata Kiki usai diskusi di Kantor Kemendiknas, Jl Sudirman, Jakarta, Sabtu (28/5/2011).
Kiki menjelaskan, para era pemerintahan Soeharto, setelah Kartosoewiryo pimpinan DI/TII menyerah, pihak TNI melihat masih ada semangat NII yang muncul. Karena itu untuk menuntaskan persoalan itu dilakukan sejumlah strategi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendekatan ini langsung dipimpin oleh petinggi TNI saat itu, Jenderal Benny Moerdani. "Jadi kita melakukan pendekatan secara berkesinambungan dan bersama-sama," tuturnya.
Namun, Kiki membantah kalau anggota NII yang dibina itu kemudian berkembang menjadi NII KW 9, yang kemudian banyak dikait-kaitkan dengan Pesantren Al Zaytun.
"Sekarang begini, dengan dibukanya keran demokrasi, tidak hanya ide NII yang bisa masuk ke Indonesia, ide lain seperti komunis, radikal Islam, juga bisa masuk. Jadi KW 9 adalah jelas bukan dari gerakan TNI, tapi bagian dibuka lebarnya keran informasi dan demokrasi di Indonesia," tegasnya.
(ndr/lh)











































