"Siapa menebar angin akan menuai badai. Siapa lelet akan menebar badai. Pak SBY ini kan lelet, sudah dilaporkan September baru dibuka sekarang," tutur Permadi.
Sindiran dari mantan politisi PDIP yang dikenal sebagai paranormal tersebut disampaikan dalam acara bertajuk Polemik Trijaya "Bola Panas Nazar Udin". Diskusi on-air berlangsung di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/5/2011) pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di partai ada banyak laporan dari waktu k ewaktu. Setiap laporan itu yang diperlukan investigasi untuk dilanjutkan atau tidak, jadi memerlukan waktu. Perlu ketelitian dan itu yang dilakukan Dewan Kehormatan PD," tepis Inca.
Proses penanganan kasus seperti dugaan gratifikasi melalui banyak tahapan, mulai dari verifikasi internal dan kesempatan kepada kader bersangkutan untuk memberi klarifikasi. Hal ini yang memakan waktu lebih lama.
"Sehingga tidak betul bahwa SBY lelet. Karena butuh kesempatan fairness bagi yang bersangkutan untuk membela diri. Begitu sudah cukup memadai bukti, baru diambil keputusan," tuturnya.
Kini saat semua sudah tuntas, Presiden SBY mendorong penuh penanganan kasus Nazaruddin melalui jalur hukum. "Sekarang kami mendorong penuh kasusnya diusut melalui jalur hukum," tandasnya.
(van/lh)











































