Kasus Malaria Juga Muncul di Garut
Jumat, 18 Jun 2004 22:51 WIB
Bandung - Menyusul Sukabumi yang statusnya menjadi kejadian luar biasa (KLB) menghadapi Malaria, dilaporkan kasus serupa muncul di Garut. Sedikitnya tercatat 206 kasus malaria di Kecamatan Balongan, Garut, Jawa barat. "Baru tadi saya menerima laporannya dari petugas di sana lewat SMS. Namun, hingga kini belum ada korban," ujar Kasubdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat Fatimah Resmiati kepada wartawan di kantornya, Jl Ternate, Bandung, Jumat (18/6/2004).Penemuan kasus tersebut, diakui Fatimah secara tidak disengaja. "Petugas yang didatangkan ke Garut bukan untuk mengecek kasus malaria di sana. Ternyata ditemukan ada 206 kasus malaria positif tidak hanya gejala klinis," katanya. Menurutnya, pemeriksaan penderita malaria di Pulau Jawa lebih akurat dibandingkan pemeriksaan serupa di luar Jawa. Hal itu dikarenakan di Pulau Jawa sudah menggunakan Annual Parasit Incident dengan melakukan tes darah. Sedangkan untuk di luar Jawa pemeriksaan hanya berdasarkan gejala klinis seperti demam dan menggigil di daerah reseptif malaria. Daerah reseptif merupakan sebutan untuk wilayah yang hidup nyamuk Anopeles yang menjadi vektor parasit Malaria. Di Jawa Barat sendiri terdapat 5 kabupaten yang merupakan daerah reseptif sekaligus endemis malaria yang seluruhnya di wilayah pantai selatan antara lain Sukabumi, Garut, Ciamis dan Tasikmalaya.Untuk kasus malaria di Kabupaten Garut, Fatimah mengungkapkan, dirinya masih menunggu laporan yang rinci tentang malaria yang dilaporkan telah berjangkit di Kecamatan Balongan. "Menurut petugas kami yang kesana, di wilayah tersebut juga terdapat lagun yang berisi air payau mirip dengan yang ada di Sukabumi, yang kemungkinan menjadi sarang nyamuk Anopeles," katanya. Data terakhir kasus malaria di Kecamatan Simpenan, Sukabumi, tercatat 508 penderita positif malaria. Dan 8 diantaranya meninggal dunia dan 73 dirawat di posko malaria setempat. "Setelah pernyataan status tersebut di Sukabumi, sudah ada pembicaraan penanganannya oleh perwakilan dari WHO, NAMRU, Depkes, Dinkes Jabar dan Kabupaten Sukabumi, serta dari lintas sektoral yang dipimpin langsung bupatinya," kata Fatimah. Untuk menangani kasus malaria di Sukabumi, lanjut dia, pemkab Sukabumi bersedia mengucurkan dana Rp 160 juta yang berasal dari APBD. "Biaya itu akan digunakan untuk menalangi biaya operasional petugas medis di Sukabumi," cetusnya. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Yudi Prayudha telah menyampaikan permintaan bantuan APBD Propinsi Jawa Barat sebesar Rp 600 juta untuk membantu biaya operasional penanganan malaria di Sukabumi. "Itu permintaan Dinkes setempat untuk biaya operasional. Saya menyampaikan saja ke DPRD," kata Yudi ketika ditemui usai rapat kerja denagn Komisi E DPRD Jabar.
(ton/)











































