Keberadaan ular tersebut diketahui anggota Satpol PP Pemkot Surakarta pada Jumat (27/5/2011), di ruang keluarga rumah dinas walikota. Dia lalu memanggil teman-temannya dan berusaha mengusir ular tersebut.
Si ular rupanya tidak seberapa terusik oleh usuran para penjaga. Ular itu memang beringsut, tapi tak seberapa jauh, kemudian menyusup masuk ke lemari penyimpangan sepatu. Tak lagi beranjak, si ular terlihat nyaman di dalamnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama kemudian, pawang yang dipanggil datang. Si pawang berpengalaman itu lalu berusaha memegang ular di dalam lemari. Sialnya, si ular melawan. Tangan si pawang digigit. Darah menyembur dari delapan luka bekas gigitan si ular. Untung saja, python bukan ular berbisa.
Dalam kondisi berlumur darah, pawang bernama Budi Sriyanto itu tetap berusaha menangkap buruannya. Kepala ular berhasil dipegang, namun tetap melawan dengan membelit Budi, hingga akhirnya si ular benar-benar takluk.
"Python ini berjenis kelamin betina. Biasanya dia tidak sendirian. Kemungkinan pasangannya atau anak-anaknya masih berada di sekitar sini. Sebelah rumah dinas kan ada lahan kosong tak terurus. Mungkin selama ini ular ini tinggal di pekarangan itu," ujar Budi sembari memasukkan ular tiga meter itu ke dalam karung.
Lalu apa komentar walikota yang ikut menyaksikan proses penangkapan ular tersebut sejak awal hingga akhir. Dengan santai, lelaki yang akrab disapa Jokowi itu berkata, "Berarti rumah ini memang nyaman dihuni. Bukan hanya orang yang merasakan kenyamanannya, ular pun juga bisa merasakannya sehingga ingin ikut menikmatinya."
(mbr/fay)











































