"Kemacetan yang terjadi semakin hari tidak semakin berkurang malah menjadi masalah yang skalanya tidak hanya DKI tapi juga nasional," kata staff penelitian dan pengembangan (litbang) LBH Jakarta, Edy Halomoan Gurning saat berbincang dengan detikcom, Jumat, (27/5/2011).
Hal ini seperti terlihat di simpang jalan Senen, Kemayoran, Pasar Minggu, Pasar Rebo, Ancol, Grogol, Cempaka Mas, Kelapa Gading, Pramuka, Roxy dan Pesing. Titik kemacetan hanya berpindah ke ujung jalan, bahkan pada jam sibuk ratusan kendaraan merayap di bawah underpass atau di fly over.
"Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang demikian tinggi saat ini kecepatan rata β rata lalu lintas di Jakarta hanya 20.21 Km, 60 persen adalah waktu hambatan, sedangkan waktu gerak hanya 40 persen," tambah Edy.
Kemacetan yang tidak terbendung ini karena Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem transportasi masih menggunakan paradigma pembangunan jalan. Padahal penambahan jalan akan mendorong pertumbuhan kendaraan 11 persen pertahunnya dari kendaraan yang ada. "Saat ini di Jakarta kendaraan pribadi adalah 98 persen dan umum 2 persen," imbuh Edy.
(asp/lia)











































