Dipecat dari posisi Bendahara Umum Partai Demokrat Senin (23/5) lalu, Nazaruddin sempat marah besar. Ia langsung menuding Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin dan Sekretaris Dewan Pembina PD Andi Mallarangeng merekayasa pencopotannya sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat.
Tak hanya itu saja, Nazaruddin juga menyebut-nyebut Andi Mallarangeng bersama adiknya Choel Mallarangeng merekayasa kasus suap Kemenpora. Ia menyebut ada bawahan Choel bernama Jefry yang memainkan proyek Kemenpora. Tudingan ini sudah dibantah keduanya.
Nazaruddin juga menyinggung-nyinggung akan membongkar sejumlah borok yang dimainkan Sekjen MK Sekjen MK Janedjri M Gaffar. Nazaruddin menyebut Janedjri, yang mengungkap pemberian uang dari Nazaruddin sebesar 120 ribu Dolar Singapura, memainkan proyek pembangunan gedung MK hingga diklat MK. Tudingan ini dibantah mentah-mentah. Ketua MK Mahfud MD, hari ini bahkan menantang siapapun yang punya data untuk membongkar borok MK,
Bersama tudingan-tudingan ini, Nazaruddin sempat mengumbar informasi akan memberikan data-data kepada media terkait temuannya. Namun jumpa pers untuk memberikan data sekaligus informasi menyeluruh tak juga digelar. Data yang disebut-sebut Nazaruddin juga menjadi pepesan kosong. Kemana Nazaruddin?
Setelah pencopotannya dari posisi Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin seperti ditelah bumi. Nazaruddin menghindari media dan teman-temannya. "Setelah pencopotannya tak banyak yang bertemu dengan beliau. Kemarin saat di Cikeas juga kami tidak melihat dia hadir," ujar Ketua DPP PD bidang Kominfo, Ruhut Sitompul, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2011).
Bahkan dalam pertemuan di Cikeas tersebut, 5 elite PD yang disebut-sebut Nazaruddin di media dan di depan tim investigasi internal PD justru dipanggil secara khusus oleh ketua dewan pembina PD, SBY. Kelima orang ini membantah keras tudingan Nazaruddin.
Menurut informasi yang dikumpulkan detikcom, lima orang yang dipanggil adalah Sekretaris Dewan Pembina PD Amir Syamsuddin, Sekretaris Dewan Pembina PD Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, Ketua Komisi X DPR dari PD Mahyudin, dan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR dari PD Mirwan Amir. Angie, Mahyudinm dan Mirwan diketahui sudah diperiksa secara tertutup oleh tim investigasi internal PD.
Semua sudah jelas, Nazaruddin sudah dicopot, Partai Demokrat pun sudah bersih nama baiknya. Lantas kenapa Nazaruddin mendadak menghilang? Apakah ada tekanan dari internal Partai Demokrat? "Nggak ada tekanan seperti itu. Karena pada pertemuan kemarin Pak SBY utamakan semangat kebersamaan," tepis Ruhut.
Ruhut bahkan mendesak agar Nazaruddin mengungkapkan fakta yang dimilikinya supaya tidak jadi fitnah. "Kita kan antikorupsi. Siapa yang melanggar hukum harus diproses. Jadi buka saja daripada jadi fitnah," tandasnya.
(van/lrn)











































