"Perang bharatayudha itu terjadi jika Nazarudin bernyanyi merdu. Tetapi nyatanya dia hanya bernyanyi sumbang. Pelurunya hampa. Ia hanya mengeluarkan statemen tuduhan tanpa adanya bukti," kata
pengamat politik, Burhanudin Muhtadi, di acara diskusi bertajuk "Refleksi 13 Tahun Pasca Reformasi" di Galeri Cafe, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (26/5/2011).
Menurut dia, pertemuan semalam di Cikeas merupakan bagian dari rekonsolidasi kekuatan internal partai untuk menyatukan visi persepsi agar kasus ini tidak melebar kemana-mana. Masalah ini hanya dilokalisir ke beberapa orang, termasuk Nazaruddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan dia, hal itu terjadi menyusul langkah Nazaruddin yang melontarkan tudingan kepada Mallarangeng bersaudara, lalu tudingan ke Amir Syamsuddin, dan mark up pembangunan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).
"Tetapi dia tidak melengkapi dengan bukti dan data yang valid, jadi harapan publik untuk melihat bom politik yang dilempar Nazaruddin ternyata tidak disambut. Yang muncul hanya petasan saja," kata Burhanudin.
(aan/fay)











































