"Peristiwa pada 1 Mei mengilustrasikan, sekali lagi, bahwa sumber teror bukanlah berasal dari desa dan kota di Afghanistan," ujar Rassoul dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non-Blok di Grand Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (25/5/2011).
Dia menambahkan, tewasnya pemimpin Al Qaeda yang bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan dan melukai ribuan orang tak berdosa di Afghanistan dan seluruh dunia, tidak membut ancaman teror padam. Terorisme ditengarai masih akan tetap menjadi ancaman besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyatakan, Afghanistan adalah negara yang muncul dari debu-debu konflik yang telah terjadi selama tiga dekade. Negara ini memulai perjalanannya mencari perdamaian dan kemakmuran. Karena itu, Afghanistan berterimakasih untuk dukungan dan solidaritas dari negara-negara sahabat terhadap upaya stabilisasi yang tengah dilakukan.
"Termasuk juga peran GNB yang tidak bisa dikecualikan," ucap Rassoul.
Dalam rangka mengakhiri kekerasan dan menjaga perdamaian dan keamanan, sebagai prekondisi kesuksesan transisi, pemerintah Afghanistan dengan sepenuh tenaga melakukan rekonsiliasi dan reintegrasi. Hal itu antara lain dilakukan dengan memberikan penawaran kepada oposisi bersenjata untuk memulai menjadi warga negara yang taat hukum, meninggalkan kekerasan, menerima konstitusi dan kembali ke kehidupan normal.
"Kami garis bawahi dukungan regional dan internasional atas upaya rekonsiliasi kami dengan peran khusus Pemerintah Pakistan," sambung Rassoul.
(vit/nwk)











































