"Kami pesimistis, memang BK bisa berbuat apa? Selama ini saja banyak laporan yang ditindak lanjuti," kata Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo saat dimintai tanggapan, Rabu (25/5/2011).
Adnan memberi contoh, misalnya saja untuk PDIP ada kasus Panda Nababan, PKS ada kasus Misbakhun. Terakhir ramai kasus Nazaruddin dari Partai Demokrat. Berdasar contoh kasus-kasus ini, masing-masing partai akan saling "menyandera".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, lanjut Adnan, masing-masing fraksi akan saling mengancam pihak lain yang ada masalah. BK tidak akan pernah berfungsi secara maksimal.
"Secara politik, BK hanya menjadi ornamen DPR tanpa memiliki dampak. BK bukan menjaga martabat tapi menjadi alat untuk saling menekan," tuturnya.
(ndr/nrl)










































