Menlu Mesir: Cukup Waktu Terbuang dalam Proses Perdamaian di Palestina

Menlu Mesir: Cukup Waktu Terbuang dalam Proses Perdamaian di Palestina

- detikNews
Rabu, 25 Mei 2011 12:42 WIB
Menlu Mesir: Cukup Waktu Terbuang dalam Proses Perdamaian di Palestina
Nusa Dua - Masalah Palestina dan Israel tak kunjung usai kendati menjadi perhatian dunia internasional sejak lama. Menlu Mesir Nabil Abdalla El Araby menyerukan agar tak lagi buang-buang waktu dalam proses perdamaian di Palestina.

Karena yang terpenting adalah mencapai perdamaian dengan menghentikan konflik yang selama ini terjadi.

"Ini saat yang tepat untuk mengubah jalan yang selama ini kita ikuti untuk mencari perdamaian. Cukup waktu terbuang dalam mengejar apa yang disebut proses perdamaian. Yang dibutuhkan sekarang adalah mencapai perdamaian dengan mengakhiri konflik daripada hanya bermaksud untuk mengelolanya," ujar Nabil dalam konferensi tingkat menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non-Blok, di Grand Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (25/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Mesir, sudah saatnya Palestina mendapatkan haknya untuk merdeka atau berdaulat sebagai negara dengan beribukota di Yerusalem Timur. Hal ini tentunya berdasarkan semua referensi persyaratan yang relevan, yang mengarah pada penyelesaian yang adil.

Nabil menambahkan, rekonsiliasi nasional Palestina yang baru-baru ini dinegosiasikan di Kairo merupakan langkah penting dalam membuka jalan bagi komitmen internasional demi negara Palestina berdasar perbatasan tahun 1967. Negara-negara dalam GNB mengadakan pertemuan khusus terkait status orang-orang Palestina yang ditahan di penjara Israel.

Dia berharap, kegiatan GNB yang akan datang akan memberi kontribusi positif bagi dunia yang sekarang ini banyak perubahan, sebagaimana komitmen pada 50 tahun lalu. Selanjutnya negara-negara GNB diharap dapat menjalankan visi bersama untuk mempertajam gerakan ini pada 50 tahun mendatang.

"50 Tahun lalu, GNB memimpin upaya pembebasan dari kolonialisme, penyelesaian sengketa dengan damai dan larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional," imbuh Nabil.

(vit/nwk)


Berita Terkait