"Hari ini generasi yang sedang tumbuh tidak memiliki pengalaman atau ingatan tentang Perang Dingin. Generasi ini akan mempertanyakan GNB, "Untuk apa kita beraliansi? Apa yang kita lawan?" Generasi ini juga, seperti kita, melanjutkan hubungan antara 1961 (saat GNB didirikan) dan Abad 21," jelas SBY.
Hal itu disampaikan SBY dalam pidatonya di pembukaan KTM ke-16 GNB di Grand Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (25/5/2011). KTM ini dihadiri utusan 128 negara di mana 95 negara merupakan negara anggota GNB, 13 negara tamu dan 20 negara pengamat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konflik Arab-Israel masih belum bisa diselesaikan. Kita juga melihat tren persaingan sumber daya, yang bisa jadi berujung pada konflik. Perselisihan etnis dan intoleransi agama, termasuk Islamofobia, juga meningkat. Kita juga memprediksi meningkatkan kasus terorisme dan kriminal transnasional," papar SBY.
SBY mengakui, hubungan antara kekuatan mayoritas relatif stabil dan memulai kerja sama daripada persaingan. Sudah muncul semangat-semangat regional di antara negara-negara di dunia.
"Itulah mengapa, di Asia-Pasifik ini, kita membangun satu bangunan regional, yang didasarkan keseimbangan dinamis, di mana tidak ada satu kekuatan yang dominan, dan setiap negara memiliki win-win relationship di antara lainnya," jelasnya.
Untuk itu GNB harus memiliki visi baru, yang diterjemahkan dalam langkah-langkah proaktif di antaranya, pertama, GNB bisa menjadi kontributor dalam budaya perdamaian dan keamanan dunia.
Kedua, GNB harus berkontribusi pada pengembangan politik, mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang bersih.
"Poin finalnya adalah, Gerakan kita harus berkontribusi dalam kemakmuran dunia, di mana tak ada negara yang tertinggal di belakang," jelas SBY.
(nwk/nrl)










































