Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik menyatakan, persisian basis massa antara Demokrat dan Golkar menjadi penting karena kedua partai ini harus merebut suara yang besar pada Pemilu mendatang. Persoalan yang dialami Demokrat bisa jadi akan menurunkan kepercayaan konstituen dan karenanya terbuka peluang untuk berpindah pilihan.
"Adanya kemiripan platform kedua partai ini secara otomatis membuat salah satu partai akan diuntungkan ketika yang lainnya sedang bermasalah. Jika sekarang Demokrat yang bermasalah, maka Golkar yang diuntungkan," kata Taufan kepada wartawan, Selasa (24/5/2011) usai seminar "Ini Demokrasi Medan Bung" di Gelanggang Mahasiswa USU Jl Tri Dharma, Kampus USU, Medan.
Disebutkan Taufan, apa yang terjadi dalam kasus Nazaruddin sehingga kemudian berujung pada pemberhentiannya selaku Bendahara Umum DPP Partai Demokrat mudah dipandang sebagai upaya penyelamatan citra. Demokrat harus berupaya keras menyelamatkan partainya dari stigma yang negatif terkait kasus ini, kendati secara hukum belum terbukti bersalah.
Demokrat memang terkesan tidak ingin berlarut-larut dengan aliran persoalan kasus ini. Jika pemberhentian tidak dilakukan Dewan Penasehat Partai Demokrat, persoalannya bisa merebak kemana-mana. Implikasi yang ditimbulkan bisa sangat merugikan partai jika hal ini terus dibiarkan.
"Bisa jadi akan menurunkan kepercayaan masyarakat kepada Partai Demokrat terutama dalam pemilu 2014 mendatang," kata Taufan yang juga Direktur Rumah Politik Andalas.
Golkar yang punya kesamaan platform dengan Demokrat bisa diuntungkan dan menjadikan persoalan ini sebagai bagian dari kampanye. Pemilih Demokrat yang semula merupakan konstituen Golkar, akan kembali memilih Golkar.
(rul/irw)











































