Gerakan Non-Blok, Dari Postur Antagonis Jadi Mitra Konstruktif

Gerakan Non-Blok, Dari Postur Antagonis Jadi Mitra Konstruktif

- detikNews
Selasa, 24 Mei 2011 15:38 WIB
Jakarta - Kala Gerakan Non-Blok (GNB) dibentuk pada 1961, dunia tengah disibukkan perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Seiring berjalannya waktu, blok-blok ini kehilangan eksistensinya. Postur GNB pun berubah dari antagonis menjadi mitra konstruktif.

"Postur GNB berubah dari antagonis menjadi mitra konstruktif dalam upaya mencapai, mencari penyelesaian masalah-masalah global," kata Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Andri Hadi, dalam media workshop 'Revitalisasi Gerakan Non-Blok dan Penguatan Peran Indonesia' di Courtyard Marriott Hotel, Nusa Dua, Bali, Selasa (24/5/2011).

Kendati perang dingin Blok Barat dan Blok Timur telah padam, namun apa yang menjadi tema perjuangan GNB sejak 1961 hingga 1990 masih relevan. Hal ini dikarenakan keterbelakangan serta kesenjangan ekonomi dan pembangunan masih menjadi permasalahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Inter-state dan intra-state war justru muncul di mana-mana seperti cendawan di musim hujan. Peperangan itu bukan karena persaingan ideologi tapi justru dipicu persoalan yang menyangkut sistem politik, kehidupan ekonomi, kesenjangan ekonomi dan sebagainya," tutur Andri.

Karena itu, lanjut dia, apa yang dicita-citakan GNB, yakni dunia yang aman, tenteram dan sejahtera masih menjadi tantangan dari berbagai negara. Dengan dunia yang berubah, maka pendekatan yang dijalankan juga harus berubah.

"Pendekatan yang secara frontal dan konfrontatif dalam hubungan antar negara tak lagi dapat digunakan, melainkan pendekatan yang lebih conciliatory, lebih konstruktif," sambung Andri.

Sementara itu, Isnspektur Jenderal Kementerian Luar Negeri Sugeng Rahardjo, menyebut, GNB perlu melakukan revitalisasi agar kembali memiliki peranan yang credible dan respectable. GNB juga harus mampu menghasilkan keputusan yang fokus, responsif dan aktual.

Menurut Sugeng, GNB juga sebaiknya meningkatkan dialog antarperadaban dan lintas agama. Hal ini karena konflik yang terjadi saat ini banyak dikarenakan kurangnya toleransi dan ketiadilan di berbagai bidang.

"Ini pada akhirnya mendorong timbulnya kelompok-kelompok ekstrimisme dan radikalisme," ucap Sugeng.



(vit/gun)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads