"Postur GNB berubah dari antagonis menjadi mitra konstruktif dalam upaya mencapai, mencari penyelesaian masalah-masalah global," kata Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Andri Hadi, dalam media workshop 'Revitalisasi Gerakan Non-Blok dan Penguatan Peran Indonesia' di Courtyard Marriott Hotel, Nusa Dua, Bali, Selasa (24/5/2011).
Kendati perang dingin Blok Barat dan Blok Timur telah padam, namun apa yang menjadi tema perjuangan GNB sejak 1961 hingga 1990 masih relevan. Hal ini dikarenakan keterbelakangan serta kesenjangan ekonomi dan pembangunan masih menjadi permasalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, lanjut dia, apa yang dicita-citakan GNB, yakni dunia yang aman, tenteram dan sejahtera masih menjadi tantangan dari berbagai negara. Dengan dunia yang berubah, maka pendekatan yang dijalankan juga harus berubah.
"Pendekatan yang secara frontal dan konfrontatif dalam hubungan antar negara tak lagi dapat digunakan, melainkan pendekatan yang lebih conciliatory, lebih konstruktif," sambung Andri.
Sementara itu, Isnspektur Jenderal Kementerian Luar Negeri Sugeng Rahardjo, menyebut, GNB perlu melakukan revitalisasi agar kembali memiliki peranan yang credible dan respectable. GNB juga harus mampu menghasilkan keputusan yang fokus, responsif dan aktual.
Menurut Sugeng, GNB juga sebaiknya meningkatkan dialog antarperadaban dan lintas agama. Hal ini karena konflik yang terjadi saat ini banyak dikarenakan kurangnya toleransi dan ketiadilan di berbagai bidang.
"Ini pada akhirnya mendorong timbulnya kelompok-kelompok ekstrimisme dan radikalisme," ucap Sugeng.
(vit/gun)











































