"Ya ada permainan ruangan. Ini kan ada tim teknisnya," ujar Marzuki kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2011).
Marzuki pun berharap kasus ini segera diselesaikan dengan meneliti siapa yang diduga terlibat dalam upaya mark up itu. Dugaan mark up menurutnya dilakukan oleh tim teknis perencana gedung baru yang terdiri dari Sekjen DPR, Kementerian Pekerjaan Umum dan Konsultan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisruh pembangunan gedung baru dimulai saat desaign pertama. Dalam design pertama gedung akan dibuat setinggi 27 lantai dan masih menggunakan gedung Nusantara I untuk menampung semua anggota DPR. Namun kemudian tim teknis mengusulkan menjadi 33 lantai tanpa harus menggunakan gedung Nusantara I.
Desaign itupun kemudian dirubah lagi menjadi 36 lantai. Dan pada desaign keempat disetujui 26 lantai. Tetapi DPR dalam hal ini BURT mengira konsep 26 lantai itu tanpa menggunakan gedung Nusantara I. Tetapi dalam rapat konsultasi antara BURT, Sekjen DPR dan Kementeria PU sore ini, Marzuki Alie baru mengetahui bila dalam konsep konsep gedung berlantai 26 itu masih menggunakan gedung Nusantara I untuk menampung sebagian anggota dewan.
Atas ketidaksepahaman itu, Marzuki yang juga ketua BURT memutuskan pembangunan gedung baru DPR dihentikan sementara.
Marzuki juga membantah bila gedung baru DPR nantinya memiliki fasilitas Spa dan kolam renang. Menurutnya isu itu dihembuskan untuk merusak citra DPR.
"Sejak design pertama sampai keempat tidak ada itu Spa atau kolam renang yang ada perpustakaan untuk menunjang kinerja anggota. Itu isu untuk membusukkan DPR, tidak benar itu," imbuhnya.
(her/ndr)











































