Kalla: UAN Tak Boleh Dikonversi, Harus Nilai Murni
Jumat, 18 Jun 2004 12:54 WIB
Padang - Cawapres Jusuf Kalla tidak setuju dengan penerapan konversi nilai UAN. Menurutnya UAN harus nilai murni, berapapun nilainya, berapapun siswa yang tidak lulus."Memang tidak boleh ada konversi, harus nilai murni. Kita setuju apapun angkanya, itu harus murni. Supaya kita mengetahui kualitas Indonesia dan mendorong anak-anak Indonesia untuk terus belajar. Kalau tidak, ini berbahaya dan merusak mutu pendidikan kita."Demikian tegas Kalla usai silaturahmi ke Perguruan Binayah Putri Kotamadya Padang Panjang Sumatera Barat, Jumat (18/6/2004). Kalla saat menjabat sebagai Menko Kesra menggagas nilai UAN minimal 4,01 bersama Depdiknas."Jadi ini harus diluruskan. Jangan lagi ada konversi. Saya tetap meminta nilai murni, berapapun nilainya, berapapun anak SMU yang tidak lulus, asal itu bisa memacu nilai belajar," ujarnya.Dia menilai cara-cara penilaian lewat konversi tidak logis. Tahun lalu nilai UAN minimal 3,0 sehingga dikhawatirkan nilai 4,01 terlalu tinggi. Tapi buktinya tidak demikian.Pasalnya, tutur Kalla, para siswa mulai rajin belajar. Siswa yang sebelumnya malas belajar, karena takut tidak lulus, menjadi rajin belajar."Kalau saya terpilih, insya Allah akan saya kembalikan ke nilai murni. Kalaupun banyak siswa yang tidak lulus tidak apa-apa. Itu shock therapy bagi mereka. Mungkin cuma setahun. Selanjutnya mereka terpacu untuk belajar," kata Kalla.Konversi UAN merupakan keputusan politik? tanya wartawan. "Saya tidak tahu. Mungkin pemerintah karena takut banyak yang tidak lulus dan secara politik dikatakan tidak bagus, maka dikonversi. Inilah yang berbahaya," ujar Kalla diplomatis.
(sss/)











































