Pemerasan itu terjadi pada Sabtu (21/5/2005) malam. Saat itu, Muthalib (53) baru saja selesai mengantar barang dan hendak kembali ke rumahnya di Kembangan, Jakarta Barat. Dengan kecepatan sedang Muthalib mengendarai mobil boks melintasi kawasan Cawang menuju ke arah Jakarta Barat.
"Tiba-tiba ada mobil Carry yang bilang mobil Papa saya kempes dan memintanya agar menepi," kata Evi Yulianti, anak Muthalib, melalui Info Anda detikcom, Minggu (22/5/2011) pukul 13.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada yang kempes, semuanya normal, tapi tiba-tiba ada derek mendekat dan langsung menderek mobil Papa saya. Sepertinya derek liar dan pengemudi mobil Carry ini satu komplotan," kata Evi.
Pengendara derek itu langsung turun dan mengotak-atik mesin mobil Muthalib sehingga mati. Akhirnya mereka menderek mobil boks tersebut ke daerah UKI.
"Mobil boks tersebut dibawa ke markas mereka di UKI," katanya.
Para kru derek liar itu kemudian meminta Muthalib menyerahkan uang sebesar Rp 1,4 juta. Muthalib yang tidak punya uang kemudian menelepon keluarganya.
"Papa menelepon saya dan nadanya ketakutan sekali. Ia minta agar segera ditransferkan uang untuk membayar derek," kata Eva.
Eva kemudian berhubungan dengan salah seorang kru derek liar itu melalui SMS. Orang tersebut mengirimkan nomor rekening dan meminta agar Eva segera mengirim uang ke rekening tersebut.
"Saya transfer sekitar pukul 19.30 WIB semalam. Tapi mereka tidak langsung melepas Papa saya. Mereka mengecek dulu uangnya sampai atau tidak," katanya.
Setelah uang sampai, Muthalib dilepas komplotan itu. Saat pergi Muthalib melihat ada lima mobil boks lain disandera komplotan itu. "Mereka memang mengincar mobil boks untuk diperas," katanya.
(nal/nrl)










































