Kelima SMA tersebut yakni SMA Abadi di Jakarta Utara (7 siswa), SMAN 3 Kabupaten Semeulue NAD (26 siswa), MA Nurul Ikhlas Kabupaten Tanjung Jabung Jambi (2 siswa), SMA LKMD Klan Darat Kabupaten Seram Timur Maluku (48 siswa), dan SMAN Urei Fasei Kabupaten Waropen Papua (64 siswa).
Terhadap hal ini, pihak Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melakukan analisis untuk mengetahui secara mendalam apa penyebab ketidaklulusan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilihat dari karakteristiknya, SMA Abadi yang telah berdiri sejak tahun 1986 ini hanya memiliki total 11 siswa saja, dimana 7 siswa diantaranya kelas XII yang kemarin mengikuti UN. SMA yang tidak memiliki laboratorium dan perpustakaan ini juga hanya memiliki 9 orang guru tanpa sertifikasi.
"Bisa dilakukan merger dengan SMA terdekat. Meski kewenangannya ada di pemerintah provinsi, tapi pandangan dari pemerintah juga bisa digabungkan," jelas Nuh.
Kemudian MA Nurul Ikhlas di Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi diketahui dari karakteristiknya bahwa sekolah ini tidak memiliki akreditasi meskipun telah berdiri sejak tahun 1989. Sekolah ini hanya memiliki total 14 siswa, dengan rincian kelas X sebanyak 5 siswa, kelas XI sebanyak 7 siswam dan kelas XII sebanyak 2 siswa.
Dengan jumlah guru 13 orang, hanya 1 orang guru yakni sang Kepala Sekolah saja yang memiliki sertifikasi guru. Selain itu, sekolah ini juga diketahui memiliki laboratorium namun tidak berfungsi. Kemudian tidak ada perpustakaan di sekolah ini.
Dikatakan Nuh, salah satu intervensi perbaikan yang bisa dilakukan terhadap sekolah ini adalah dengan melakukan merger dengan SMA atau MA terdekat.
Selanjutnya, SMA LKMD Klan Darat di Kabupaten Seram Timur, Maluku memiliki karakteristik berbeda dengan 2 sekolah sebelumnya. SMA yang telah berdiri sejak 2003 ini memiliki akreditasi A dan juga jumlah murid yang memadai, dimana total murid 160 siswa dan terdapat 49 siswa kelas XII.
Namun dari sisi pengajar, SMA ini hanya memiliki 7 orang guru. Dimana 6 orang guru dan seorang Kepala Sekolahnya bukanlah sarjana. Selain itu, ketujuh guru tersebut juga tidak memiliki sertifikasi guru. Ditambah tidak adanya laboratorium dan perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
"Dari sisi partisipan memadai, tapi dari sisi pengajar belum," ucapnya.
Menurut Nuh, intervensi perbaikan yang bisa dijadikan solusi bagi SMA ini adalah dengan melakukan pembangunan laboratorium, pembangunan perpustakaan, pembangunan ruang kelas baru, peningkatan kualitas guru dan sertifikasi guru.
Kemudian, SMAN Urei Fasei di Kabupaten Waropen, Papua yang baru berdiri tahun 2008 ini diketahui memiliki total 123 siswa. Dimana terdapat 66 siswa kelas XII, dengan rincian 21 siswa kelas IPA dan 45 siswa kelas IPS.
Dimana jumlah gurunya yakni 16 orang guru tetap dan 9 orang guru tidak tetap. Namun hanya 1 orang guru saja yang memiliki sertifikasi, dan 1 orang guru diketahui berpendidikan di bawah S1. Selain itu, sekolah ini juga tidak memiliki laboratorium dan perpustakaan memadai.
"Siswa memadai, tapi fasilitas tidak ada. Kita bisa membayangkan bagaimana kelas IPA tanpa adanya laboratorium. Ini fakta lapangan," ujar Nuh.
Untuk sekolah ini, Nuh menuturkan intervensi perbaikan yang bisa dilakukan yakni pembangunan laboratorium dan perpustakaan, serta sertifikasi guru.
(nvc/mad)











































