Jika Tak Minta Maaf Soal Kritik SARA, Bambang Soesatyo Dibelit Catatan Moral

Jika Tak Minta Maaf Soal Kritik SARA, Bambang Soesatyo Dibelit Catatan Moral

- detikNews
Jumat, 20 Mei 2011 11:51 WIB
Jika Tak Minta Maaf Soal Kritik SARA, Bambang Soesatyo Dibelit Catatan Moral
Jakarta - Politisi Golkar Bambang Soesatyo dikenal sebagai politisi yang kritis. Gara-gara kritik SARA kepada Mendag Mari Elka Pangestu, Bambang mendapat sorotan. Jika dia tidak minta maaf terkait kritiknya, Bambang tak akan lepas dari belitan catatan moral.

"Saya kira sebaiknya Pak Bambang bersikap legowo untuk klarifikasi Bu Mari. Ini akan bisa jadi catatan moral bagi Pak Bambang yang selama ini dikenal politisi yang kritis. Sangat disayangkan, kekritisannya jadi ternodai," ujar Direktur Eksekutif Ma'arif Institute, Fajar Riza Ul Haq, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (20/5/2011).

Bambang adalah seorang pejabat publik yang seharusnya memberikan keteladanan bagi masyarakat. Dengan menyinggung suku dan ras yang mengait kebijakan berpotensi membuat kalangan tertentu tersinggung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengkritik kebijakan itu boleh, namun tidak perlu membawa SARA. Ketika geram atas sesuatu jangan sampai menimbulkan pernyataan yang emosional dan tendensius," sambung Fajar.

Kritikan Bambang atas Marie sebenarnya pantas dimaklumi lantaran banyak kejanggalan yang terendus terkait pengadaan pesawat MA60 dari China. Namun bukan berarti mencederai kesantunan di muka publik.

"Saya mengapresiasi Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang telah menegur Pak Bambang. Kita tinggal menunggu sikap Pak Bambang yang legowo untuk memberi klarifikasi dan minta maaf kepada publik," ucap Fajar.

Bambang melontarkan pernyataan tidak mengenakkan dalam dialektika demokrasi "Orde Baru vs Reformasi" yang membahas hasil survei Indobarometer di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (19/5).

Ia menilai pemerintahan Soeharto lebih komprehensif memilih menteri sehingga tak ada kesalahan semacam pembelian pesawat MA60 dari China.

"Beda dengan zaman Soeharto, maaf bukan mau membandingkan, tapi terlihat dari kualitas yang berbeda. Karena zaman Soeharto itu ada seleksi yang cukup ketat, bukan hanya basa-basi pemilihan menteri, di-shooting bahwa dipanggil sama presiden, lalu terpilih, hanya show up tapi kualitasnya terlihat. Jangan heran kalau kebijakan Elka membeli pesawat MA 60 dari China itu lebih mengacu ke nenek moyangnya," kritiknya.


(vit/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait