"Soal pembelian Merpati di China bukan soal China atau bukan China, soal nenek moyang atau bukan. Yang terutama apakah dalam proses pembelian itu ada manipulasi dan kongkalikong, penipuan dan sebagainya, kongkalikong, penipuan, manipulasi itu bisa dilakukan siapa saja, tidak tergantung pada hubungan kesukubangsaan," ujar pendiri Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Tommi A Legowo.
Hal itu disampaikan Tommi saat berbincang dengan detikcom, Jumat (20/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah dengan harga yang tinggi, kualitas yang diperoleh Merpati itu layak atau tidak begitu saya kira. Kita harus lebih profesional mengkritisi ini, bukan berdasarkan sentimen ras," tegas Tommi.
Anggota Komisi III DPR dari Golkar, Bambang Soesatyo, mengkritik pemerintahan SBY-Boediono. Sampai-sampai ia melepaskan pernyataan tidak mengenakkan untuk Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Hal ini disampaikan Bambang dalam dialektika demokrasi "Orde Baru vs Reformasi" yang membahas hasil survei Indobarometer di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (19/5/2011).
Ia menilai pemerintahan Soeharto lebih komprehensif memilih menteri. Sehingga tak ada kesalahan pembelian pesawat MA 60 dari China.
"Beda dengan zaman Soeharto, maaf bukan mau membandingkan, tapi terlihat dari kualitas yang berbeda. Karena zaman Soeharto itu ada seleksi yang cukup ketat, bukan hanya basa-basi pemilihan menteri, dishooting bahwa dipanggil sama presiden, lalu terpilih, hanya show up tapi kualitasnya terlihat. Jangan heran kalau kebijakan Elka membeli pesawat MA 60 dari China itu lebih mengacu ke nenek moyangnya," kritiknya lagi.
(nwk/asy)











































