BNPT Akui Masih Banyak Eks Napi yang Kembali Jadi Teroris

Riset Analis Australia

BNPT Akui Masih Banyak Eks Napi yang Kembali Jadi Teroris

- detikNews
Jumat, 20 Mei 2011 01:44 WIB
BNPT Akui Masih Banyak Eks Napi yang Kembali Jadi Teroris
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui masih banyak eks narapidana teroris yang kembali melakukan aksi teror. BNPT terus berkordinasi dengan pihak terkait untuk meminimalisir hal tersebut kembali terulang.

"Saya tidak membantah tapi indikatornya ada," ujar Kepala Deputi Penindakan BNPT Petrus Golose di Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, Kamis (19/5/2011).

Petrus mencontohkan setidaknya ada 19 eks narapidana yang telah menyelesaikan masa hukumannya namun kembali melakukan aksi teror. Mereka diantaranya Ubai, Mustakim, Abu Tholut dan Abdulah Sonata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rehab dan reorientasi, harus terus menerus dilakukan. Fungsi BNPT mengkordinir instansi yang punya kemampuan bidang masing-masing," jelasnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bahrul Alam. Menurutnya memang ada eks napi terorisme yang kembali melakukan aksi teror setelah keluar dari lapas.

"Memang ada beberapa orang seperti itu. Contohnya Oman Abdurahman, Oman itu sudah beberapa kali ditangkap. Ini memang jadi perhatian kita," paparnya.

Oleh karena itu lanjut Anton, harus ada yang merubah pemahaman mereka sehingga mereka kembali ke jalan yang benar. "Karena itu masih jadi pemahaman mereka, maka mereka masih melakukan teror," ungkapnya.

Menurut Dr Carl Ungerer dari Australian Strategic Policy Institute, ada sekitar 30 persen napi teroris yang paling berbahaya. Program deradikalisasi tidak mempan untuk mereka dan bahkan mereka masih berniat melakukan aksi teror setelah bebas 18 bulan mendatang. Dia melakukan riset dengan mewawancarai secara mendalam 33 terpidana terorisme di Indonesia.

Dalam wawancara dengan ABC, Rabu (18/5/2011), Ungerer mengatakan terpidana teroris di Indonesia terbagi dua. Sebagian besar adalah alumni Afghanistan atau daerah konflik seperti di Ambon.

"Kelompok ini kecil kemungkinan terlibat dalam pemboman membabi-buta seperti di Bali," kata Ungerer.

Ungerer juga menyebutkan, terorisme sekarang tidak beroperasi di belakang organisasi besar seperti Jamaah Islamiyah, melainkan kelompok-kelompok kecil beranggotakan 2-3 orang.

(mpr/ape)


Berita Terkait