Hal itu disampaikan Kepala Deputi Bidang Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Petrus Golose usai jumpa pers di Mapolresta Cirebon, Kamis (19/5/2011).
"Rekruitmen sekarang adalah generasi yang belum sama sekali terlibat di Afghanistan maupun Moro. Ini generasi baru yang belajar sedikit tapi bisa mengakibatkan rasa takut," ujar Petrus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat juga ada fenomena masjid dhiror yang dianggap dibangun para penguasa. Itu interpretasi yang salah. Ini yang harus bersama-sama untuk bersatu padu melawannya. Yang dilakukan teroris itu hanya untuk menyebarkan rasa tidak aman, rasa takut di masyarakat," jelasnya.
Petrus mencatat, M Syarif, pelaku bom bunuh diri di Masjid Adzikra Cirebon merupakan pelaku bom bunuh diri ke-10. Secara antropologis pelaku paling banyak berasal dari Jawa bagian barat.
"Kenapa dilakukan bom bunuh diri, karena dengan kekuatan kecil bisa berikan efek teror yang massif kepada masyarakat dan bisa menyaring simpatisan sekaligus bagi mereka untuk mencari dana baik lokal maupun Internasional," imbuhnya.
Bom bunuh diri, lanjut Petrus, selalu memiliki otak yang mengendalikannya. Artinya, pelaku bom bunuh diri tidak bekerja sendirian.
"Kalau bicara bom bunuh diri tergantung pada siapa yang akan melaksanakan. Jadi kita tidak bisa tentukan kapan dan dimana. Kalau dia sudah disiapkan tapi tidak melakukan, kita lihat kejadian sebelumnya, bom bunuh diri tetap ada kontroller (pengendali)," ungkapnya.
"Dari data yang dihimpun BNPT kita mencoba untuk memetakan jaringan terorisme. Teror bisa dengan assasination maupun bom. Perlawanan kepada pemerintah bisa dengan perang, gerilya, teror yang dipilih organisasi radikal adalah terorisme," tandasnya.
(mpr/ape)










































