"Dari bukti-bukti yang ditemukan, didukung keterangan para saksi diketahui bahwa pengetahuan merakit bom diperoleh dari Tim Hisbah Semanggi, Sukoharjo, pimpinan Sigit Qurdowi," ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Anton Bahrul Alam dalam jumpa pers di Mapolresta Cirebon, Kamis (19/5/2011).
Anton menjelaskan, Sigit adalah buronan yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus teror bom di Klaten, Surakarta dan Sukoharjo. Sigit telah tewas dalam saat digerebek di Sukoharjo Sabtu (14/5). Sigit memperoleh pengetahuan seputar bom dari Heri Sigo Samboja alias Neril alias Shogir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengetahuan merakit bom dari Sigit ini, lanjut Anton, kemudian dipelajari oleh kelompok Muhammad Syarif. Kelompok ini dipimpin oleh Yadi Al Hasan. Menurut Anton, ia adalah amir Ashabul Kahfi Cirebon. Tim ini, Anton melanjutkan, merupakan tim kecil yang semua anggotanya merupakan anggota Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) wilayah Cirebon.
"Selain belajar pengetahaun bom secara kelompok, anggota kelompok ini juga belajar secara perorangan. Fakta ini didukung dengan ditemukannya sisa rangkaian elektronik dan bahan peledak di 14 TKP, termasuk di rumah-rumah kelompok tersangka M Syarif ini," terangnya.
M Syarif meledakkan bom yang ia simpan di balik jaketnya dalam masjid di kompleks Mapolresta Cirebon April lalu. Ia meledakkan bom tersebut tepat di belakang Kapolres Cirebon AKBP Herukoco yang tengah melaksanakan ibadah salat Jumat bersama puluhan jamaah lainnya. Syarif tewas seketika sementara belasan jamaah lainnya luka-luka termasuk Kapolres Cirebon.
(adi/nrl)











































