"Bagaimana Thailand dan Kamboja mengambil solusi masalah perbatasan dalam pertemuan ini?" demikian tanya seorang wartawan dari Jepang dalam jumpa pers penandatanganan 'Joint Declaration of The ASEAN Defense Minister on Strengthening Defense Cooperation of ASEAN in The Global Community to Face New Challenge',di Gedung JCC Senayan, Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (19/5/2011).
Namun, kedua menteri yang dimaksud enggan menjawab. Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro, pun segera menutup jumpa pers tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, saat dicegat wartawan usai acara, Purnomo menjelaskan alasan mengapa Menhan Thailand dan Kamboja enggan menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, masalah perbatasan adalah masalah bilateral, sementara Pertemuan V Menhan ASEAN ini merupakan pertemuan multilateral.
"Kalau bilateral itu urusan Menteri Luar Negeri. Menhan hanya sebagai pihak sebagai pilar security," terang mantan Menteri ESDM ini.
Dua Menhan dari dua negara yang tengah bertikai tersebut tak menampakkan rasa saling bermusuhan. Mereka tampak bersahabat dengan saling berjabat tangan dan melempar senyuman usai penandatanganan deklarasi.
Konflik perbatasan Thailand dan Kamboja telah menewaskan belasan orang. Mereka saling mengklaim kawasan di sekitar Kuil Preah Vihear sebagai wilayah kedaulatannya. Indonesia, sebagai Ketua ASEAN tengah menjembatani pertikaian kedua negara dengan menawarkan pendekatan 'package solution' dalam menangani konflik ini. Pendekatan tersebut telah disepakati Menteri Luar Negeri Kamboja dan Thailand dan kini tengah menunggu kesepakatan masing-masing kepala negara.
(adi/nrl)











































