"Mereka itu tidak lulusnya karena di Matematika saja, rata-rata nilai Matematika hanya 1 dan 2," ujar guru mata pelajaran Sosiologi SMU Abadi, Afgani Syam, ketika ditemui detikcom di SMU Abadi, Jl Cupang I No 16 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakut.
Menurut Afgani, secara umum siswa kelas III yang hanya berjumlah 7 orang itu adalah siswa-siswi yang lumayan pintar. Untuk mata pelajaran lain, nilai mereka mencukupi untuk lulus UN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rata-rata keluarga pedagang," sebutnya.
Di sekolah, 7 orang ini juga tergolong rajin masuk. Jarang 7 orang ini tidak masuk sekolah.
"Paling sedikit yang masuk itu 5 orang," kata Afgani yang juga tinggal di sekolah ini.
Afgani menjelaskan, para murid-muridnya ini sebenarnya takut orangtuanya tahu mereka tidak lulus. Mereka merasa malu karena tak lulus UN.
"Saya sudah ketemu murid, mereka minta tidak diberitahukan ke orang tuanya. Dalam waktu dekat ini kami akan undang orangtua untuk memberitahukan mereka," tuturnya.
Murid-murid SMU Abadi memang berjumlah sedikit, namun persentase ketidaklulusan baru kali ini 100 persen.
Pada tahun 2009 jumlah siswa kelas III sebanyak 14 orang, dan 3 orang yang tak lulus UN. Tahun 2010, 5 orang siswanya lulus UN semua. Sedangkan tahun 2011, 7 orang siswanya semuanya tidak lulus UN.
SMU Abadi telah berdiri sejak tahun 1970-an. Sekolah ini dikelola olah Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam. Gedung sekolah ini terbilang lumayan, meski jumlah siswanya sedikit, sekolah ini mempunyai ruang kelas berjumlah 20 ruangan, dengan bangku dan meja yang penuh di dalamnya. Karena siswa yang kurang, sebagaian kelas sekolah ini dipinjamkan kepada sekolah Mutiara Hati.
(gun/nrl)










































