Hal itu disampaikan politisi asal PDIP ini saat bersaksi untuk rekan-rekannya yang telah menjadi terdakwa, Agus Condro cs di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (19/5/2011).
Usai fit and proper test Miranda, rekan Emir, Dudhie Makmum Murod datang ke ruang komisi sambil membawa tas berisi amplop. Menurut Emir, Dudhie saat itu menyebut amplop ini sebagai upah mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tidak ada penjelasan detil saat itu, Emir menduga 'uang cape' yang dimaksud berkaitan dengan proses fit and proper test Miranda.
"Karena sudah selesai fit and proper test dan PDIP dukung Miranda," beber Emir.
"3 Hari 3 malam kan kita kerja," lanjutnya.
Menurut Emir, beberapa koleganya saat itu langsung mengambil jatah amplop yang dibawa Dudhie sebelumnya. Ia melihat amplop itu berisi TC. Emir pun juga ditawari oleh Dudhie, meski akhirnya ditolak.
"Saya nggak suka kalau dikasih Miranda hal begitu," jelas Emir yang mengaku pernah duduk satu sekolah dengan Miranda.
"Saya tidak mau ada money politics," akunya lagi.
Beberapa hari usai kejadian itu, Emir kembali ditawari oleh Panda Nababan amplop berisi TC 4 lembar. Karena Panda beralasan untuk kegiatan kampanye, Emir pun menerima TC tersebut. Namun Emir berdalih tidak mengetahui apakah TC ini sama dengan yang diterima rekan-rekannya.
"Saya tidak tahu apakah sama atau tidak," tandasnya.
(mok/anw)











































