Kartu tersebut menyimpan informasi eksak kapan pintu kamar dibuka, ditutup, atau dibiarkan menganga. Data mengenai ini dapat membantu untuk menganalisis apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Hotel-hotel di New York, demikian New York Post dikutip detikcom dari Volkskrant (18/5/2011), sudah sejak 1977 mulai beralih ke kunci elektronik, setelah maling berulang kali menyatroni kamar-kamar dengan kunci manual. Kunci baru ini berupa kartu plastik dengan strip magnet mirip kartu debet atau kartu kredit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tamu-tamu pria acapkali mengorder kanal porno di fasilitas televisi dan kemudian meminta handuk, dengan harapan pekerja wanita akan membawakannya," terang produsen cardreader untuk hotel Peter M. Krauss di New York Times.
Hal itu, lanjut Krauss, menjadi salah satu pertimbangan mengapa yang dikirim mengantarkan handuk seringkali pekerja pria dan pintu tidak boleh ditutup, jika ada pekerja di dalam kamar.
Menurut Krauss, kunci kamar elektronik akan merekam berapa lama pintu kamar itu terbuka. Pekerja hotel juga memegang kartu berbeda daripada kartu untuk tamu. Semua data yang terekam dari penggunaan kartu itu dapat dikembangkan oleh polisi untuk menyelidiki suatu perkara, seperti yang menimpa DSK.
DSK ditahan di penjara New York, setelah petugas wanita Hotel Sofitel menuduh dia memaksanya melayani seks oral dan anal. Tim advokat petinggi IMF itu menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti tentang pemaksaan.
Menurut pengakuan petugas itu pintu kamar tertutup ketika dia mencoba kabur. Disebut-sebut juga mengenai keberadaan video di mana terlihat bagaimana dia melarikan diri dari kamar suite. DSK kemudian terburu-buru keluar dari suite itu.
(es/es)











































