"Kalaupun ada satu dua, itu manusiawi saja orang-orang itu," kata Patrialis menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (19/5/2011).
Dia menjelaskan pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin melakukan pembinaan di tahanan. dengan menanamkan cinta kepada masyarakat dan bangsa. Namun kalau narapidana itu kembali melakukan aksi terorisme, itu sulit dicegah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dr Carl Ungerer dari Australian Strategic Policy Institute, ada sekitar 30 persen napi teroris yang paling berbahaya. Program deradikalisasi tidak mempan untuk mereka dan bahkan mereka masih berniat melakukan aksi teror setelah bebas 18 bulan mendatang. Dia melakukan riset dengan mewawancarai secara mendalam 33 terpidana terorisme di Indonesia.
Dalam wawancara dengan ABC, Rabu (18/5/2011), Ungerer mengatakan terpidana teroris di Indonesia terbagi dua. Sebagian besar adalah alumni Afghanistan atau daerah konflik seperti di Ambon.
"Kelompok ini kecil kemungkinan terlibat dalam pemboman membabi-buta seperti di Bali," kata Ungerer.
Ungerer juga menyebutkan, terorisme sekarang tidak beroperasi di belakang organisasi besar seperti Jamaah Islamiyah, melainkan kelompok-kelompok kecil beranggotakan 2-3 orang.
(ndr/nrl)











































