"Wajar sekali mereka melakukan itu, selama ini setelah keluar dari penjara mereka tidak pernah diperhatikan. Belum lagi masyarakat punya penilaian buruk kepada mereka," kata peneliti terorisme dari Universitas Airlangga, A Safril Mubah saat dikonfirmasi, Kamis (19/5/2011).
Safril mengaku tidak heran dengan hasil penelitian itu. Selama ini pemerintah umumnya tidak mau tahu dengan para eks napi teroris itu setelah mereka bebas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi, saat di tahanan, umumnya tidak ada klasifikasi dari tingkatan pelaku teror. Baik yang ideolog atau pun yang hanya ikut-ikutan digabung menjadi satu.
"Padahal semestinya perlu dipisah-pisahkan. Orang baru yang ikut dalam jaringan kemudian disatukan dengan yang tingkatan pimpinan. Seorang ideolog akan mendapatkan doktrin, nah keluar penjara dia akan semakin radikal," tuturnya.
Yang perlu dilakukan pemerintah yakni memberikan fasilitas bagi para terpidana terorisme. "Berikan mereka fasilitas untuk bekerja atau menggeluti dunia usaha agar bisa melepaskan diri dari jaringan mereka. Jadi pikiran jihad mereka tersalurkan ke bidang yang lain," urainya.
(ndr/fay)











































