Pakar Duga Pilot Merpati yang Jatuh Tak Sadar Pesawat Kritis

Pakar Duga Pilot Merpati yang Jatuh Tak Sadar Pesawat Kritis

- detikNews
Kamis, 19 Mei 2011 12:29 WIB
Pakar Duga Pilot Merpati yang Jatuh Tak Sadar Pesawat Kritis
Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menengarai tidak ada keributan di kokpit pesawat MA60 milik Merpati yang jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat. Situasi kokpit yang tenang memunculkan dugaan pilot tidak sadar kondisi pesawat kritis sebelum menukik ke laut.

"Tidak ada keributan di kokpit artinya apa? Kemungkinan tidak ada kepanikan di kokpit. Kalau itu yang terjadi berarti pilotnya tidak ngeh (sadar -red) kalau kondisi pesawatnya kritis," ujar pakar penerbangan Kapten Rendy Sasmita Adji Wibowo, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (19/5/2011).

Tidak adanya kepanikan di ruang kokpit, lanjut Rendy, menunjukkan adanya disorientasi spasial. Disorintasi spasial berarti arah dan tujuan pesawat tidak lagi berdasarkan navigasi yang telah terencana.

"Saat di udara, langit dan laut terlihat sama, berwarna abu-abu. Karena itu tidak ada batasan horizon yang jelas. Saksi mata melihat pesawat tegak lurus ke atas, berarti kan ada kelebihan saat belok, saya kira lebih dari 30 derajat. Akibatnya pesawat menukik," tutur Rendy.

Menurutnya, peristiwa serupa dialami oleh Fokker 28 MK 3000 PKGFU milik Merpati pada 1993 di Sorong. "Mungkin harus diperhatikan adanya sistemik error karena accident yang terjadi lebih dari sekali," imbuh pria yang akrab dengan kemudi pesawat selama 34 tahun ini.

Tenangnya situasi kokpit menjelang pesawat jatuh, tambah Rendy, ada koordinasi yang kurang baik dalam kerja antar pilot. Hal ini harus menjadi perhatian para pilot. Sebab koordinasi yang tidak baik menjadi 'resep' kecelakaan.

Dia menjelaskan, saat kritikal yang dialami pilot adalah saat ada perubahan dari terbang instrumen (pakai GPS) ke terbang visual. Saat terbang instrumen, pilot tidak perlu melihat ke luar.

"Khusus Kaimana, prosedur pendaratan itu visual, tidak ada prosedur pakai instrumen landing. Alat bantu navigasinya non-directional beacon, yakni seperti pemancar AM, hanya memberi panduan ke arah airpot, tidak bisa navigasi presisi," terang Rendy dalam wawancara sebelumnya pada 9 Mei dengan detikcom.

Saat sampai di atas Kaimana dan cuaca tidak baik, runway antara kelihatan dan tidak. Begitu akan mendarat, tower memberi clearance landing. Nah, pilot fokus melihat runway, dan sehingga kemungkinan pilot tidak bisa membedakan mana langit dan mana laut karena semuanya abu-abu.

"Kalau pilot dan kopilotnya sama-sama mencari runway (dengan melihat ke luar pesawat), mau membelok pun mereka tidak sadar. Ketika keduanya melihat ke luar, tidak sadar pesawat telah berbelok lebih dari 30 derajat. Kemungkinan ada spatial disorientation. Kalau sudah belok lebih dari 30 derajat maka hidung pesawat dulu yang turun atau menukik," analisa Rendy.

Pesawat berjenis MA60 milik Maskapai Merpati jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, pada Sabtu (7/5/2011). Dalam insiden tersebut, seluruh orang yang ada dalam perut pesawat tewas, yakni 16 penumpang dewasa, 1 anak, 2 bayi dan 6 kru.

(vit/fay)


Berita Terkait