Temuan-temuan ini adalah hasil riset Dr Carl Ungerer dari Australian Strategic Policy Institute. Dia melakukan riset dengan mewawancarai 33 terpidana terorisme di Indonesia.
Dalam wawancara dengan ABC, Rabu (18/5/2011), Ungerer mengatakan para napi teroris ini berkontribusi dalam membuat literatur terorisme di Indonesia. "Kebanyakan materi publikasi ini dikerjakan di dalam penjara," kata Ungerer.
Menurut dia, para napi ini bisa menulis dan mengirimkan pesan-pesan mereka ke luar penjara. "Ada orang-orang, terpidana teroris. Mereka menulis dan mengirimkan pesan-pesan mereka dari dalam penjara," jelas dia.
Tidak hanya itu, paham terorisme pun disebar lewat situs, ruang chatting, dan media sosial. Tujuannya untuk merekrut orang-orang muda menjadi anggota mereka.
"Situs-situs, chatting dan media sosial untuk merekrut individu-individu, sekarang tumbuh dengan pesat," kata mantan analis intelijen pemerintah Australia ini.
Nah, bahan-bahan bacaan terorisme ini kemudian disebar juga kepada anak-anak muda. Tujuannya untuk menimbulkan ketertarikan dan mereka pun bergabung dengan gerakan teror.
"Targetnya usia muda. Kami menemukan para generasi muda ini bisa mendapatkan bahan bacaan tersebut," tutupnya.
(fay/vta)











































