30% Napi Teroris Indonesia Tak Mempan Deradikalisasi

Riset Analis Australia:

30% Napi Teroris Indonesia Tak Mempan Deradikalisasi

- detikNews
Kamis, 19 Mei 2011 11:27 WIB
30% Napi Teroris Indonesia Tak Mempan Deradikalisasi
Jakarta - Pemerintah berusaha menderadikalisasi para narapidana teroris di Indonesia. Namun, ada sekitar 30 persen napi teroris yang paling berbahaya. Program deradikalisasi tidak mempan untuk mereka dan bahkan mereka masih berniat melakukan aksi teror.

Demikian hasil penelitian Dr Carl Ungerer dari Australian Strategic Policy Institute. Dia melakukan riset dengan mewawancarai 33 terpidana terorisme di Indonesia.

Dalam wawancara dengan ABC, Rabu (18/5/2011), Ungerer mengatakan terpidana teroris di Indonesia terbagi dua. Sebagian besar adalah alumni Afghanistan atau daerah konflik seperti di Ambon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelompok ini kecil kemungkinan terlibat dalam pemboman membabi-buta seperti di Bali," kata Ungerer.

Mereka ini bisa mengikuti program deradikalisasi untuk diberikan penyadaran. "Mayoritas sudah ditahan, diadili dan menjalani hukuman penjara. Faktanya mereka belum kembali ke jaringan lama mereka," kata mantan analis intelijen pemerintah Australia ini.

Namun kata Ungerer, dari semua napi teroris, ada sekitar 30 persen napi yang tidak mempan dengan program ini. Para napi inilah yang disebut Ungerer sebagai teroris paling berbahaya di Indonesia.

"Ada 30 sekian persen yang paling berbahaya," jelas dia.

Mereka ini menganut ideologi Al Qaeda mengenai konsep jihad global melawan negara Barat. Mereka tidak memilih-milih korbannya. Orang Barat dan orang Indonesia sama saja buat mereka.

"Waktu yang mereka habiskan di penjara tidak melunturkan niat mereka untuk menjadi bagian dari kelompok ekstremis yang mempersiapkan diri untuk membunuh orang Indonesia dan orang Barat," tutupnya.

(fay/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads