Dalam wawancara dalam program Lateline Australian Broadcasting Corporation (ABC), Rabu (18/5/2011), Ungerer juga menyebutkan, penjara dalam banyak kasus telah menjadi inkubator terorisme.
Ungerer menyebutkan, para terpidana terorisme itu akan bebas 18 bulan ke depan dan sekelompok dari mereka berniat untuk melakukan serangan pada target-target Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan analis intelijen pemerintah Australia ini meneliti terorisme di Indonesia nyaris satu dekade. Namun riset terakhirnya yang dia juduli "Jihadists in Jail, Radicalisation and the Indonesian Prison Experience" ini membuatnya prihatin pada masa depan.
Menurutnya, para terpidana terorisme itu tidak lagi berkaitan dengan organisasi tertentu seperti Jamaah Islamiyah. "Kita sedang berhadapan dengan individu, beberapa menyebutnya serigala kesepian, beberapa memanggil mereka freelancer," ujarnya. Mereka bisa beroperasi dalam kelompok kecil, terdiri dari dua atau tiga orang, misalnya dalam pengeboman Hotel Marriott pada 2009. "Ini artinya ancaman belum akan pergi, malah bisa memburuk," ujarnya.
(nrl/vta)











































