Makamkan Hendro Yunianto, Keluarga Pertimbangkan Praperadilan

Makamkan Hendro Yunianto, Keluarga Pertimbangkan Praperadilan

- detikNews
Kamis, 19 Mei 2011 08:04 WIB
Sukoharjo - Jenazah terduga teroris yang tewas dalam kontak tembak dengan polisi di Sukoharjo Sabtu (14/5) lalu, Hendro Yunianto, dimakamkan pagi ini. Hendro dimakamkan di pemakaman Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Jenazah Hendro diberangkatkan dari RS Bhayangkara Semarang Rabu (18/5) malam dan tiba di rumah duka yang merupakan rumah orangtuanya di Cemani Baru, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Kamis dinihari.

Setibanya di rumah duka, pekik takbir bersahut-sahutan menyambutnya. Teriakan-teriakan itu dilakukan oleh puluhan pemuda anggota kelaskaran di Solo dan sekitarnya yang bersimpati pada Hendro Yunianto, terduga teroris yang tewas dalam penyergapan Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri di Sanggrahan, Sukoharjo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setibanya di rumah duka, keluarga langsung mengantikan kain kafan pembungkus yang telah dikenakan pada jenasah Hendro sejak dari rumah sakit. Setelah digantikan dengan pembungkus kafan baru yang telah disiapkan keluarga, selanjutnya jenasah Hendro disemayamkan di rumah duka.

Jenasah Hendro diberangkatkan ke pemakaman yang telah dipersiapkan di Polokarto, Sukoharjo, yang berjarak sekitar 25 km dari rumah duka. Pemberangkatan jenasah dilakukan selepas sholat Subuh. Saat ini proses pemakaman Hendro baru saja usai dilaksanakan.

Pengacara keluarga, Endro Sudarsono, mengatakan pihak keluarga masih mempersoalkan cara Densus 88 menghabisi Hendro. Keluarga menduga Hendro tidak meninggal dalam kontak tembak seperti yang disampaikan polisi selama ini. Luka menganga di bagian dahi Hendro, mengesankan Hendro meninggal akibat tembakan di dahi dari jarak dekat.

Selain luka menganga di bagian dahi, kata Endro, saat menggantikan kafan, keluarga juga melihat tidak kurang dari sepuluh luka tembakan lainnya di tubuh Hendro. Keluarga menduga kematian Hendro bukan karena kontak tembak, melainkan sengaja dibunuh dengan cara ditembak di bagian dahi dari jarak dekat tanpa perlawanan.

"Keluarga mempertimbangkan akan mempraperadilankan polisi karena menduga polisi sengaja membunuh Hendro. Selama ini polisi merilis berita Sigit dan Hendro melepaskan tembakan membabi buta, tetapi ternyata kenyataannya terbukti justru polisi yang melakukan serangan tembakan membabi buta itu," ujar pengacara dari tim Islamic Study and Action Center (ISAC) tersebut.

(mbr/her)


Berita Terkait