Istri Penambang Pasir dan Dua Anaknya Tewas Tertabrak KA
Kamis, 17 Jun 2004 17:35 WIB
Solo - Sungguh tragis akhir hidup Sudarti dan dua anaknya. Saat hendak mengirim makan siang buat suaminya yang bekerja sebagai penambang pasir Bengawan Solo, dia bersama dua anaknya yang melewati jembatan rel KA itu tewas seketika karena tertabrak kereta api (KA) Pasundan.Kejadian mengenaskan itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (17/6/2004). Sudarti (40 tahun) hendak mengirim makan siang buat Supardi (50 tahun), penambang pasir di Bengawan Solo. Saat itu dia mengajak anaknya Indah (5 tahun) dan Andri (4 tahun). Ketiganya melewati jembatan rel KA, mungkin dengan maksud mempersingkat perjalanan.Sudarti menggendong Andri dan menggandeng Indah, sedangkan sebelah tangannya lagi membawa makanan buat suaminya. Namun ketika sedang meniti rel di atas bengawan itu, warga Jogobondo RT 01 RW 21,Palur, Mojolaban, Sukoharjo, ini tidak menyadari dari belakangnya KA Pasundan jurusan Surabaya - Bandung yang dikemudikan masinis Agus Sutomo datang dengan kecepatan tinggi.Ibu dan dua anaknya yang panik itu tidak sempat lagi menepi untuk menghindar dari hantaman moncong kereta. Ketiganya tertabrak dan terpental. Sebelum terjatuh di ke sungai dan tewas, ketiganya juga sempat terbentur tiang besi jembatan.Yang lebih mengharukan lagi adalah dari arah bawah Supardi saat itu melihat dengan mata kepalanya sendiri ketiga orang tercintanya itu terhempas menuju kematian dengan kondisi menyedihkan, tanpa dia bisa berbuat apa-apa lagi.Para teman Supardi sesama penambang pasir di Bengawan Solo itu menuturkan bahwa tidak biasnya Sudarti melewati jembatan rel KA tersebut jika mengirim makan siang buat suaminya. "Biasanya Bu Darti selalu lewat Jurug," tutur mereka.Ketiga jenazah hari ini juga langsung dimakamkan di TPU Eyang Saleh Punthuk Mojolaban. Warga setempat menuturkan bahwa Sudarti adalah istri ketiga Supardi. "Dari kedua istri sebelumnya Pak Pardi tidak mempunyai keturunan. Dia memutuskan untuk menikah lagi karena sangat ingin punya anak, tetapi ternyata Tuhan menggariskan lain," kata para tetangga korban.
(nrl/)











































