Layakkah Strauss-Kahn Diperlakukan Barbar?

Catatan dari Den Haag

Layakkah Strauss-Kahn Diperlakukan Barbar?

- detikNews
Rabu, 18 Mei 2011 17:18 WIB
Layakkah Strauss-Kahn Diperlakukan Barbar?
Den Haag - Filosof terkemuka Prancis Bernard-Henri Lévy geram atas perlakuan terhadap Dirjen IMF Dominique Strauss-Kahn (DSK). Tak seorang pun di dunia boleh melempar seseorang dengan cara seperti ini ke para srigala.

"Belum jelas benar apakah DSK bersalah atas sangkaan pelecehan seksual terhadap pelayan hotel Sofitel di New York," tekan Lévy di situsweb The Daily Beast.

“Yang saya tahu pasti adalah bahwa Strauss-Kahn yang saya kenal, yang sudah 20 tahun menjadi teman saya dan tetap akan jadi teman saya, seutuhnya bukan monster beringas, binatang yang tak pernah puas dan ganas, seperti sekarang digambarkan," tulis Lévy, dikutip detikcom dari NRC Handelsblad (17/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan tulisan itu Lévy mendukung protes, yang dilancarkan oleh Partai Sosialis Prancis. Para politisi partai ini, yang menggadang-gadang Strauss-Kahn sebagai kandidat presiden, marah atas cara pengeksposan DSK.

Foto-foto penangkapan dan penggiringan DSK beredar ke seluruh dunia. Oleh polisi dan pengadilan, pemimpin berusia 62 tahun itu dipertontonkan kepada pers dengan terborgol dan tak bercukur.

Mantan Menteri Kebudayaan Prancis Jack Lang merasa sejawat separtainya itu 'sedang dianiaya'. 'Mengerikan dan menjijikkan'. "Di Prancis perlakuan terhadap tersangka jauh lebih manusiawi," tambah pemimpin partai Martine Aubry.

Sebelum divonis maka seseorang tidak boleh difoto atau difilm dengan terborgol. Dalam penanganan terhadap DSK ada unsur teatral, ujar advokat Amerika dikutip ANP. Jaksa, kepala polisi, bahkan para hakim dipilih secara terbuka. Untuk memperoleh keuntungan elektorat, perlakuan terhadap tokoh berpengaruh seperti DSK menjadi ekstra keras.

Setara

Tidak ada hakim atau jaksa mau disalahkan bahwa dia memperlakukan seseorang tidak sama di muka hukum. Namun justru elemen itu dapat menjadi alasan untuk tidak menjebloskan seorang DSK yang terbiasa di suite seharga USD 3000 per malam di antara kriminal jalanan. Bahkan tidak di Rikers Island, di mana DSK menempati sel seluas 12 m2.

"Seorang hakim harus dapat memisahkan antara kelompok 'peka' dan 'tidak peka'," tulis Guru Besar Hukum pada Brooklyn Law School, Adam Kolber dalam esainya di Columbia Law Review (Januari 2009).

Kolber mengambil contoh Paris Hilton. Hukuman penjara 45 hari untuk Hilton akan sangat terasa lebih berat daripada hukuman yang sama untuk seorang gelandangan.

Dalam sebuah negara hukum yang beradab, demikian Kolber, kita harus menghukum siapa saja setara. Diterjemahkan ke dalam situasi DSK jelas bahwa dia dihukum lebih berat daripada orang biasa, yang diduga melakukan perbuatan serupa.

Hormati Negarawan

Filosof Bernard-Henri Lévy mengecam, “Saya benci boulevard press (koran sensasi, red) New York," tulis Lévy.

“Sebuah aib untuk kelompok profesi, yang menggambarkan DSK sebagai orang sakit, jahat, hampir disamakan pembunuh berantai, tanpa reserve dan tanpa cover both side," tambah Lévy.

Secara khusus Lévy juga marah kepada Bernard Debré. Anggota parlemen Prancis ini langsung memanfaatkan peristiwa dengan mengatakan bahwa DSK telah sejak lama bertingkah seperti penjahat.

"Hendaknya kita lebih berhati-hati memperlakukan pemimpin," demikian Lévy.

Lévy mengingatkan, bahwa Prancis, negara di mana DSK telah mengabdi bertahun-tahun, akan kehilangan salah satu abdinya yang terloyal dan tercakap.

“Eropa, untuk tak mengatakan dunia, sangat berhutang budi padanya. Dia selama bertahun-tahun silam, sebagai petinggi IMF, telah membantu untuk mencegah skenario terburuk. Oleh sebab itu sangat tidak santun untuk bersukacita menyikapi kejadian ini," pungkas Lévy.


(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads