"Saya kira kalau Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengkampanyekan jangan menikah muda ini positif untuk perlindungan. Selain unsur medis (kesehatan reproduksi) juga ada unsur psikologis untuk jadi ibu dan ayah. Takutnya nanti malah menambah jumlah anak terlantar," kata pemerhati anak, Seto Mulyadi.
Pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut menyampaikan hal itu saat berbincang dengan detikcom, Rabu (18/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keputusan diambil dengan emosional. Logika tidak terlalu diperhatikan, sehingga keputusannya tidak jauh ke depan. Nah, kalau remaja umur ini menikah dan punya anak, maka nanti kasihan anak-anaknya," tutur Seto.
Karena belum matang secara psikologis, banyak kasus menunjukkan ibu yang masih belia belum siap menjalankan tanggung jawab berumah tangga, menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Demikian pula dengan pria yang masih cukup belia, masih labil emosinya.
"Lalu imbasnya apa? Nanti tidak bisa menghasilkan keluarga yang sejahtera. Ini rawan terhadap anak. Anak-anak yang terlantar adalah korban dari perpecahan keluarga. Hal ini harus mendapat perhatian," sambung Kak Seto.
Sebelumnya, BKKBN menyampaikan kampanye untuk tidak menikah muda. Sejumlah poster kampanye bertuliskan: "Menikah di usia muda banyak problema. Ayo siapkan dirimu. Raih prestasi, tunda nikah dini. 2 Anak lebih baik" ditempatkan di beberapa tempat umum. Hal ini karena BKKBN mengindikasikan, rata-rata orang menikah di Indonesia berusia 19,8 tahun yang artinya, masih banyak yang menikah di bawah usia 20 tahun. Jika terlalu muda menikah, dikhawatirkan kondisi medis dan psikologis belum cukup mendukung.
(vit/nrl)










































