Kasus Tanker, KPK Telah Periksa Direksi Pertamina
Kamis, 17 Jun 2004 15:51 WIB
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata diam-diam telah memeriksa direksi Pertamina terkait dugaan korupsi dalam penjualan tanker. Namun para direksi masih bersikeras tidak melanggar prosedur.Demikian disampaikan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas kepada wartawan usai orientasi "Peran dan Fungsi KPK dalam Pemberantasan Korupsi" di Gedung Krida Bhakti, Jl. Veteran No 12 A, Jakarta, Kamis (17/6/2004)."(Rabu, 16/6/2004) Kemarin kami telah bertemu dengan direksi baru Pertamina dan sudah memperoleh penjelasan secukupnya. Tapi kami masih meminta keterangan dari berbagai sumber untuk sampai pada kesimpulan apakah KPK akan melanjutkan masalah ini," kata Erry.Apa hasil pertemuan itu? "Hasilnya jelas mereka tetap pada kesimpulan untuk menjual sesuai dengan rencana mereka dengan segala argumen yang disampaikan dan semua studi yang disusun untuk itu," jelas Erry. Prihatinkan DPRKPK memprihatinkan sejumlah anggota DPR ikut terseret kasus dugaan korupsi penjualan tanker Pertamina. Namun diharapkan yang terjadi dalam kasus kunjungan ke Hong Kong dan Korea Selatan hanya merupakan kesalahpahaman. KPK belum sampai pada kesimpulan kunjungan wakil rakyat itu dibiayai oleh Pertamina. KPK masih akan meminta keterangan dari pihak Pertamina yang mengetahui biaya perjalanan tersebut. "Kami belum sampai pada kesimpulan seperti itu karena belum bertemu dengan orangnya. Kami akan mencoba menghubungi orang itu dan menerima info dari tangan pertama mengenai kebenaran berita itu," kata Erry. KPK belum ada rencana untuk memanggil anggota Komisi VIII. Namun KPK tidak keberatan melakukannya jika diperlukan. Hanya saja, KPK akan lebih berhati-hati menuntaskan kasus tersebut. "Yang harus diperhatikan bahwa kita harus memiliki cukup bahan. Jangan-jangan ini hanya permainan opini atau politik saja," tandas Erry. Selain meminta keterangan direksi baru, KPK juga akan memeriksa direksi lama Pertamina. KPK akan menyelidiki alasan direksi lama memberi tanker. "Kontak sudah ada. Tapi belum ada kecocokan jadwal. Dalam pertemuan nanti untuk memahami argumen mereka mengapa sampai pada kesimpulan untuk membeli tanker itu sedangkan pada direksi baru justru menjualnya," demikian Erry.
(iy/)











































