"Pemerintah dan DPR jangan mementingkan kepentingan sendiri. Ada kepentingan publik yang harus diperjuangkan, yang utama gedung dan sarana sekolah," kata peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan saat dikonfirmasi, Senin (16/5/2011).
Ade membandingkan dengan pembangunan gedung baru DPR yang seharga Rp 777 miliar dan sudah diverifikasi Kementerian Pekerjaan Umum. Mesti dipikirkan bagaimana sarana publik bisa ikut dibangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya fenomena sarana umum, seperti jembatan untuk bersekolah itu tidak hanya terjadi di Banten saja. Menurut Ade, di daerah pelosok Jawa Barat ada anak sekolah yang sampai berenang lebih dahulu untuk sampai ke sekolah.
"DPR harus sensitif agar berani berjuang menuntut pemerintah untuk segera melakukan tindakan," imbuhnya.
Lebih jauh, mesti dipikirkan bagaimana seandainya anak-anak itu jatuh ke sungai. "Apa DPR dan pejabat pemerintah memikirkan? Saya rasa tidak sampai kepikiran ke situ," urainya.
Diketahui, di desa yang letaknya sekitar 100 km dari Jakarta, tampak pemandangan anak sekolah dengan memakai sandal jepit meniti di atas jembatan dari kawat baja. Lihatlah foto dari kantor berita Antara yang diterbitkan Majalah Tempo pada Senin (16/5/2011) ini.
Caption dari foto yang membuat miris itu: 'JEMBATAN KAWAT BAJA' Para siswa kelas enam SD Negeri Cicaringin 3 ini bukan sedang melakukan kegiatan outbond. Ketiadaan jembatan memaksa mereka meniti kawat baja menyeberangi Sungai Ciliman saat akan mengikuti ujian nasional di Desa Cicaringin, Banten, Senin, 9 Mei.
Dalam foto itu tampak sekitar 8 bocah berseragam SD, ada yang memakai baju olahraga, semuanya bersandal jepit. Mereka dengan berhati-hati memegangi kawat baja yang melintang pukang di atas Sungai Ciliman selebar sekitar 40 meter. Ketinggian jembatan kawat baja dari atas sungai sekitar 5 meter.
Dari penelusuran, jembatan itu adalah jembatan gantung bernama Leuwi Lember, yang putus sekitar bulan Maret 2011 lalu. Entah apakah wakil rakyat setempat dan pemerintah yang menaungi rakyat di Desa Cicaringin itu mengetahui kondisi jembatan gantung yang membahayakan itu. Namun hingga Mei 2011, jembatan itu belum kunjung diperbaiki.
(ndr/fay)










































