Mustofa (27) gigolo yang harus berurusan dengan hukum misalnya, selama 2 tahun menjual diri sudah beberapa kali mendapat order melayani wanita-wanita kesepian di Yogyakarta dan Surabaya. Imbalan yang didapat Mustofa tentu lebih besar dari melayani tamu di dalam kota.
Jika di Jakarta sekali kencan Mustofa mematok imbalan Rp 300 sampai Rp 400 ribu, sudah termasuk komisi bagi germo Rp 100 ribu. Untuk luar kota jumlahnya bisa menjadi 3 kali lipat. Belum termasuk akomodasi perjalanan ke kota tujuan. Bookingnya pun tidak lagi hitungan jam, tetapi satu hari penuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pernah melayani para pelanggan di Yogja dan Surabaya," ungkap Mustofa kepada detikcom, Senin (16/5/2011).
Diakui oleh Mustofa secara materi memang uang yang didapat cukup lumayan. Tetapi kondisi tubuh lelah karena setelah melayani tamu, dia harus segera kembali ke Jakarta keesokan harinya. Belum lagi jika sang germo kembali memerintahkan melayani tamu tanpa mau tahu kondisi anak buahnya.
"Kalau ada yang panggil mau tak mau berangkat lagi," katanya.
Pekerjaan yang rentan dengan penyakit kelamin ini memicu tiap kali berhubungan Mustofa memutuskan menggunakan kondom. Jika ada tamu yang meminta dilepas dia menolaknya. Mustofa tidak hanya melayani para tante girang, demi uang waria pun diladeni.
Selama dua tahun menjadi gigolo, Mustofa mengaku tidak pernah menjajakan diri dengan mangkal di lokalisasi tempat para gigolo. Order yang diterima datang dari sang germo. Pelanggan yang sudah pernah membookingnya terkadang menghubungi langsung.
"Kalau saya ditelepon langsung, germo ga tau uangnya full," imbuhnya.
Mustofa juga tidak tahu simpul-simpul di ibukota tempat komunitas para gigolo berkumpul. Jika tidak ada order pria yang sudah memiliki seorang anak ini memilih berdiam diri di kamar kosnya di Senen, Jakarta Pusat. Dia juga sadar masih berada dalam kasta rendah sebagai gigolo.
"Saya ini kan gigolo kelas bawah," tutupnya.
(did/anw)











































