Nama Tauhid Wal Jihad tiba-tiba menjadi pusat perhatian ketika Polri mengaitkannya dengan penggerebekan teroris di Sukoharjo yang menewaskan Sigit Qurdowi dan pengawalnya Hendro. M Syarif, pelaku pengeboman di masjid Mapolresta Cirebon, disebut-sebut bagian dari jaringan kelompok ini.
Pengamat terorisme Mardigu WP menilai kelompok ini masih tergolong baru dalam dunia radikalisme. Anggota mereka rata-rata didominasi oleh anak muda yang agresif dan terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pola rekrutmen yang dilakukan oleh petinggi kelompok ini memanfaatkan agresifitas generasi muda. Mardigu menyebutnya aliran salafi jihadi.
"Lebih agresif, radikal, terbuka, berani. Kaum itu biasa disebut aliran salafi jihadi. Kaku, fanatik, tradisional," imbuhnya.
Meski baru, kelompok ini masih terinspirasi oleh tokoh-tokoh senior dalam dunia jihad. "Misalnya Abu Bakar Baasyir, Osama, Nurdin M Top atau mujahid lain panutan mereka," sambungnya.
Bagaimana penyebarannya? Ahli hipnoterapis ini mengendus tak banyak pola rekrutmen yang dilakukan. Organisasinya pun terbilang kecil dan tidak saling bersinggungan dengan kelompok lainnya.
"Anak-anak muda idealis, mereka memuja perjuangan jihad dengan darah. Saat ini fokus mereka lokal, hanya Indonesia," tambahnya.
Siapa saja sasaran rekrutmen kelompok ini?
"Saudara, teman-teman dekat satu almamater. Karena itu kelompoknya kecil, ekslusif," jawabnya.
Sebelumnya nama Tauhid Wal Jihad dimunculkan saat Mabes Polri merilis penggerebekan di Sukoharjo. Sigit Qurdowi ditengarai tergabung dalam Tim Hisbah atau Tauhid Wal Jihad. Sigit memiliki peran penting dalam kelompok tersebut.
"Sigit merupakan pimpinan dan pelatih perakit bom Tauhid Wal Jihad," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam dalam keterangan pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (14/5/2011).
(mad/ndr)










































